Sabtu, 19 Oktober 2013

Jayus

Jayus

Jayus

Jayus

Jayus

Jayus

Jayus dkk

Jayus dkk
Jayus (3/4 Tahun) sebuah nama sebenarnya. namanya bukan terinspirasi dari sebuah tokoh yang muncul di media massa beberapa waktu lalu karena ulahnya memakan uang rakyat lewat jalan korupsi. Gayus Tambunan tenar belakangan sesudah artis cilik Araselo ini lahir. Bukan juga nama Jayus terinspirasi dari seorang yang bernama Jayus yang tenar karena tragedi Talangsari tahun 1989, biar tau tragedinya cek link ini.
Karena di Araselo listrik aja baru masuk tiga bulan yang lalu, pasti soal tragedi ini pasti ortu Jayus gak ngerti.
Atau jangan-jangan terinspirasi dari bahasa slang yang populer tahun 90-an, cek biar tau cek, silahkan  
setelah di konfirmasi ayah dan ibunya juga bukan dari kata itu. lalu apa, ibunya menjelaskan dengan penuh makna akan cinta..wuih, jadi alkisah nama ayah Jayus adalah Jamil dan Ibu bernama Yusmiyah. Nah, biar cinta pasangan ini abadi maka diambillah kata depan Ayah "Ja" dan kata depan nama ibu "Yus" jadi rumusnya begini: (Jamil-Mil)+(Yusmiyah-miyah)= Jasus, plok..plok...wuih cerdas ya ayah ibu Jayuz..hehe
Jayus terlahir istimewa seperti kawan-kawan lainnya, kenapa? ceritanya begini: pertama wajahnya photogenic banget, liat aja hasil jepretan saya saat mendokumentasikan wajah-wajah lucu anak Taman kanak-kanak, atau saat kawan-kawan dari Banda Aceh datang, Jayus langsung jadi obyek jepretan kamera. wah, calon model ni Jayus.
Kedua, Jayus ini anak cerdar, banyangkan saja anak ini punya aja alasan untuk tidak masuk kelas. memang Jayus selalu berangkat sekolah tapi habis itu gak mau masuk, kalau ditanya ada aja jawabannya mulai dari Ibu guru gak masuk, padahal jelas-jelas ada guru, pernah juga alasan gak bawa buku, padahal TK kan gak perlu bawa buku, atau adalagi, alasannya gak bawa nasi. ampyunn..cerdaskan alasannya..
Jayus juga udah pandai berbahasa Indonesia, meskipun masih TK dia selalu berceloteh pake bahasa Indonesia. "minta uang mak" atau "belajar pak".
Jayus selalu minta uang untuk jajan. anak ini tidak tak henti-hentinya selalu minta uang, maklum aja gaulnya di kedai, jadi kalau duduk sama Jayus pasti terdengar suara "nebi peng mak" atau "Yah, nebi peng" (emak beri uang). sampai-sampai ibunya pusing.
Jayus anak yang gak pernah takut, dia tergolong bandel dan tahan banting. seringkali tiba-tiba mukul teman yang lebih besar tanpa alasan. tapi lucu, karena habis mukul langsung ngekek sendiri. kalau berantem, gak tanggung-tanggung sama anak yang lebih besar dan jarang nangis.
pokoknya Jayus ini banyak tingkahnya, aku selalu kesepian kalau Jayus ini gak keliahatan. untung saja rumahnya tepat di depan rumah tempat aku tinggal, hanya terpisah jalan kampung. jadi anak ini selalu ada.
sering anak ini jadi pengawalku. saat anak lain pulang atau aku baru sampai rumah dari sekolah Jayus pasti udah mengekor dibelakangku, ikut masuk kamar, ikut di dapur, hingga nunggu di depan kamar mandi saat aku di dalam. hahah...lucu diikutin terus...
wah, bakalan kangen ni kalau besok pulang ninggalin Jayus...hiks

Jumat, 18 Oktober 2013

Pun, aku menikmati kebiasaan masyarakat di sini, saat malam hari atau di luar waktu itu, ketika ada kesempatan aku meluangkan atau karena memang kewajibanku sebagai anak yang tak rela hati meninggalkan emak sendirian di tengah-tengah ramainya malam versi kampungku. Emak selalu menunggu, di tengah-tengah pekatnya asap rokok yang sering membuat nafas ini sesak, atau di tengah-tengah obrolan kopi yang membicarakan tentang banyak hal, mulai dari soal politik hangat Qanun Bendera, aliran sesat, hingga isu regional kampung yang biasa sekali soal gosip tetangga. Minimal peranku di kedai adalah sedikit meringankan beban bagi tubuh emakku yang sudah mulai melemah karena dimakan usia.
Ya, itulah kehidupan malamku. Kehidupan malamku sangat bewarna , setidaknya dimulai dari senja saat kumandang adzan magrib diperdengarkan melalui corong-corng masjid, aku beranjak dari rumah tinggalku. Nampaknya karena rutinitas, aku mulai tak menghiraukan lagi pemandangan indah senja seperti biasa, langit merah di balik masjid kayu yang dihiasi deretan pegunungan, dan di sudut lain lautan Selat Malaka terlihat tipis seperti kabut. Tak lupa teriakan anak-anak dari balai menjadi tambahan indahnya suasana setiap sore.
Saat bintang sudah berani menampakkan eksistensinya, aku manfaatkan waktuku untuk sekedar meramaikan balai pengajian. Aku ikuti alur pengajaran yang telah dikurikulumkan oleh tengku masjid. Memang sedikit aku memodifikasikan kebiasaan di sini dengan sedikit pengetahuannku tentang soal baca Al-Quran dan iqro’, tapi tentu itu sangat minim, dan lebih aku ikuti cara orang di sini mengajarkan untuk anak-anakknya. Sesekali juga aku dipercaya untuk menjadi imam di masjid, menggantikan tengku, saat tengku harus masuk hutan, mencari rizki dari mahalnya buah jerna, atau saat tengku berdiri di deretan paling belakang sof sholat anak agam (cowok), untuk mengawasi, siapa-siapa yang bergurau atau salah saat mempraktikan gerakan sholat. Itulah kegiatan sebagian di waktu malamku.
Suara Adzan Isyak sekitar pukul 21.00 WIB, menandakan anak-anak boleh menyelesaikan ngajinya dan bersiap menjalankan sembahyang. Setelah sholat, mereka kembali melanjutkan aktivitas di kedai atau belajar bersama di rumah nenek Ponah. Bagiku aktivitas kini berlanjut untuk mengajari matematika atau menulis untuk anak-anak yang masih mau belajar. Di ruang tamu rumah, aku sediakan rak kecil untuk majalah anak dan buku yang aku beli. Harapannya buku-buku ini mau dibaca. Pukul 22.00 WIB, biasa anak-anakku ini harus sampai berkali-kali diingatkan untuk segera pulang lekas tidur. Tapi bagi anak-anakku, jam segitu belumlah waktunya tidur, karena justru waktu itu layar televisi sedang menjual acara-acara andalannya untuk menarik para pemirsa. Tentu saja anak-anakku tambah tidak mau beranjak dari kedai.
Pukul 22.00 WIB, kehidupan malamku belum berakhir, atau justru ini baru dimulai. Tapi dengan cara yang berbeda, bagiamana aku harus menyelami dan menjalaninya. Aceh bagiku menawarkan sesuatu hal baru, terutama kehidupan malamnya. Aku merasakan waktu malam di sini lebih panjang dan penuh dengan komunalitas yang kadang menghibur, memberikanku sebuah makna dan pelajaran, tapi tak jarang juga membuatku terlena dengan kenyamanannya. Aceh selalu menyuguhkan pelajaran baru disetiap malamnya, mempertemukanku dengan orang-orang baru yang membuatku lebih banyak mengenal banyak hal. Inilah kehidupanku yang lain, baru dimulai pukul 22.00 WIB.
Berawal dari sebuah adaptasi untuk mengkondisikan diri hidup disebuah rumah berkedai yang tentunya tidak semudah yang diperkirakan. Seminggu hidup di sini aku harus bertahan, mungkin mirip anak Salmon, yang harus memulai hidup di air laut Samudera Atlantik, saat ia beranjak dewasa setelah sebelumnya menikmati tawarnya air sungai. Sungguh berat, tapi harus dipaksakan. Malam itu pukul 00.00 WIB, tubuhku menjadi berat dan hampir tak sanggup untuk hanya sekedar duduk. Kelopak mata sudah tak sanggup dibuka, maklum pagi hari aku sudah bangun dan harus bersiap-siap menyapa anak-anak. Tak jarang malam itu aku harus berkali-kali mengusap air ke wajah, berharap menghanyutkan rasa kantuk dari wajah. Emak masih terlihat sibuk melayani orang yang duduk, sambil sekali-kali menggulung daun lontar tipisnya yang telah terisi tembakau untuk kemudian dihisab. Itulah senjata mujarab emak, selain kopi hitam untuk mengusir kantuknya setiap malam.
Tiga bulan di sini, aku seperti berada di planet lain karena tak memahami apa yang dibicarakan orang-orang di sekelilingku. Orang-orang di sini tak banyak memulai pembicaraan denganku, mereka biasa buka mulut saat aku bertanya terlebih dahulu. Sehingga wajar saja kalau kemudian aku diam, tak satupun orang berbicara denganku. Malam semakin larut, aku lihat jam ditanganku yang telah menunjukkan pukul 01.00 WIB, tetapi beberapa orang di kedai masih asyik menyimak televisi yang suaranya harus beradu dengan raungan keras genset di belakang rumah. Emakku orang yang telaten, ketika hanya satu orang yang tersisa di kedai, emakku tetap saja masih menunggu sampai orang itu pulang. Baru kemudian Araselo gelap gulita, karena kedai emakku menjadi penerangan terakhir di kampungku.
Delapan Bulan berlalu, aku masih bertahan di sini, di kedai emak yang selama ini menjadi tumpuan harapan satu-satunya emak untuk mencari rejeki. Selama itu aku juga lambat laun berubah, sekarang tubuhku telah berevolusi terhadap dunia malam Aceh, sehingga bisa bertahan seperti orang-orang di sini. Malam itu tak ada suara genset lagi, karena listrik telah mengalir melalui tali-tali hitam yang berkilo-kilo meter panjangnya terpanggul oleh tiang-tiang kokoh di sepanjang jalan. Kulkas, televisi berinci besar, sound system, dan lampu terang telah tersedia di kedai emakku. Kini orang semakin nyaman dan betah duduk di sini. Demikian denganku, aku lebih bisa menikmati TV di sini, dari pada sebelummnya saat masih di rumah, karena banyak komentator handal di sini. Kini aku tidak lagi seperti alien yang tak memahami bahasa planet lainnya, tapi kini aku bisa merespon pernyataan ataupun perkataan orang lain. Sesekali aku nikmati kopi hitam seperti yang lain, sehingga aku lebih tahan dan tak pernah mengantuk lagi. Bahkan kini tak bisa memejamkan mata ketika aku berusaha tidur di awal waktu. Kini aku telah berevolusi menjadi manusia insomnia.
Rupanya tidak hanya aku sendiri yang berevolusi, orang di sekelilingku juga demikian. Orang kini tak harus menunggu aku bertanya, karena sekarang bersahut-sahutan. Orang sekarang terbiasa melihat orang membuka laptop di kedai, dan kini orang duduk di kedai juga sesekali membuat alat pembelajaran untuk besok aku pakai untuk mengajar. Pernah suatu ketika orang di kedai bertanya-tanya ketika aku membawa kertas lipat, dan beberapa steak es krim. Malam itu aku harus menyiapkan kupu-kupu mainan dari steak es dan kertas untuk besok dipamerkan saat pelajaran SBK. Rencana malam itu aku akan membuat beberapa kupu sendirian sambil menunggu kedai bersama emak. Rupanya malam itu aku tak jadi membuat sendiri, karena kemudian bapak-bapak ikut membantuku membuat kupu-kupu palsu itu. Bahkan hasil buatan mereka lebih bagus, dari pada hasil karyaku, padahal awalnya mereka hanya meniru saja. beberapa kali, orang-orang di kedai juga membantu menggunting kertas karton untuk alat peraga keesokan harinya. jadi kerjaanku semakin ringan sekarang kalau aku kerja di kedai.
Saat itulah aku berfikir bahwa, bukan aku saja yang berubah karena kehidupan malam di sini, tapi kemudian warga Araselo juga berubah dan menyesuaikan diri dengan tingkahku. Mungkin perubahan itu tidak seberapa, akan tetapi minimal semua saling mewarnai.

   

Inilah Jayuz, ia baru berumur 6 tahun. ia asyik bermain sepak bola mini buatanku. kecil-kecil ia telah tau Evan Dimas salah satu pemain U-19 yang sering ia dengar saat nonton bareng di kedai kopi. ya, di sini bola tak mengenal usia, sejak heboh teamnas U-19 orang-orang kampungku suka sekali mengikuti jalannya pertandingan. apalagi ada dua pemain Aceh. orang-orang kampung selalu heboh kalau pemain Aceh kesayangan mereka menggiring bola. "ka u hai, awak Beuren, awak Beuren" (lihat hai orang Beuren).
Ini hikmah masuknya listrik selama tiga bulan ini. masyarakat di sini, ikut merasakan menjadi "manusia Indonesia", yang mana ikut merasakan senang, laiknya manusia Indonesia lainnya saat menyaksikan team kesayangannya menang. setidaknya tiga bulan yang lalu kami tak tau apa-apa. tapi saat listrik masuk, masyarakat di sini benar-benar merasakan menjadi bagian dari Indonesia. soal korupsi, soal MK, soal ini itu, yang menjadi masalah bangsa, kini menjadi bagian yang dibahas dan difikirkan oleh masyarakat di Araselo.

action!!

kohkoh (sembelih) lemoe (sapi)

pembagian si kameng (daging kambing)

si lemoe

 aneuk mit (anak kecil)

Selasa, 08 Oktober 2013

         Teman satu ranjang, satu sumur sumber ilmu, satu guru yang hebat-hebat, dan tentu satu sepermainan. wah, akhirnya nikah juga, terlalu cepet, tapi keren idealis memang pernikahan kalian. disaat seumuranmu masih fokus mengejar karier, tapi kau beranikan diri untuk tak hanya mengejar karier, tapi kebahagiaan berumah tangga, sebagai dasar mengejar karier, luar biasa, sungguh tak banyak pemuda sepertimu. Disaat kau banyak diragukan oleh orang karena keberanianmu, kau tetap maju dan yakin. tapi di sisi lain ternyata banyak yang mengagumi keberanianmu. bahkan kemudian banyak yang mengikuti langkah jejakmu..wow, sungguh nekad yang menular..hoho..oke sobat aku doakan semoga pernikahanmu berkah dunia akhirat..amin..

    Magrib 5 Oktober 2013, hujan masih membasahi tanah Sawang yang subur. Lantunan adzan terdengar indah, seolah tak mau kalah dengan desiran suara hujan sore itu. Aku bersama Nizam anak muridku, masih setia menunggu kawan-kawan Super Leaders (SL) yang sore itu untuk pertama kali akan menginjakkan kakinya di bumi Sawang, yang sebelumnya mereka hanya dengar saja. Seusai sholat magrib, kami kembali menanti kehadiran mereka yang konon ceritanya, butuh waktu dua hari satu malam untuk menuju ke tempat ini, sungguh kramat Sawang ini, bahkan butuh waktu lama untuk menjangkaunya. Alkisah perjalanan anak-anak SL tidak direstui oleh penjaga gunung seulawah agam, yang sempat mereka lalui saat perjalanan, alhasil si penjaga iseng mencopot ban mobil Avanza bernomor 753 LE yang mereka tumpangi, untung saja ulah usil itu tak membahayakan anak-anak SL, meskipun menghambat perjalanan mereka. Tapi jerih payah perjuangan mereka terbanyar sudah, karena sore ini akhirnya mereka sampai juga di kecamatan Sawang.
makan malam sama emak

     Aku lihat dari luar, nampak wajah-wajah berseri-seri di dalam mobil, menandakan mereka masih antusias untuk melanjutkan perjalanan. Entah apa kesan pertama mereka melihat daerah kecamatan Sawang yang jalannya bagus, dengan keramaian pusat kecamatan yang bergairah. Kesimpulanku yang ada dalam benak mereka waktu itu, kurang lebih begini “kok, bisa ya PM disini, kan ini jalannya udah bagus, bahkan rame”. Oke tunggu dulu, itu kesimpulan awal, hehe. Benar saja sopir avanza kemudian dengan penuh semangat menanyakan “mana Ari kampung kamu?” “aha, ini pertanyaan yang aku nantikan” batinku. “oke siap ya, sebentar lagi kita akan menempuh perjalanan yang sebenarnya, ya kira-kira 17 Km naik lagi ”, sahutku. Terlihat pasrah si sopir avanza, tapi apa boleh buat, inilah perjalanan sesungguhnya baru dimulai. Langsung saja kami teruskan perjalanan suci itu, dan sekarang tugasku adalah memandu mereka hingga selamat sampai tujuan, dengan kendaraan kebesaranku, yaitu Honda Prima buatan tahun 89 yang selalu setia menemaniku.
    Tak lama, sorotan lampu kendaraan kami selalu menerangi rumput tinggi yang menjadi pemandangan sepanjang perjalanan. Mungkin anak-anak SL kemudian melihatku sebagai aksi kocak penunggang motor yang memaksakan motor tuanya menaiki bukit licin nan terjal. Apalagi melihat aksiku mengusir ular di jalan, gak paham lagi, apa yang ada dalam pikiran mereka. Ah, gak papa, anggap aja perjalanan kali ini hiburan untuk anak-anak SL. Tapi aku cukup puas karena kemudian bisa menjawab sedikit unek-unek dalam benak para calon pemimpin Aceh masa depan ini, “mengapa PM ditempatkan disini?” ya biar mereka simpulkan sendiri. Tapi yang jelas anak SL bisa melihat sendiri bagaimana sepinya tanda-tanda modernitas di kampungku, salah satunya karena akses jalan yang kurang bagus. Biarlah mereka melihat sendiri kondisi ini. Sekitar 45 menit kemudian, secercah lampu putih dari salah satu teras rumah penduduk Araselo, sedikit memberi sinyal kehidupan, pertanda kami telah memasuki kampung. Selamat datang di tanah Araselo dengan segala keunikan dan permasalahannya.
Menuju sekolah
Bersiap-siap

         Pukul 21.00 WIB, kami tiba di kedai emak Ponah, simpang empat, lorong empat, Araselo. Inilah tempat yang selama hampir sebelas bulan ini aku berteduh dan pijakan awal untuk bergaul dengan masyarakat di sini. Tak lama Emak menyambut mereka dengan senyum lebar dan keramahannya, persis waktu pertama kalinya aku sampai di rumah ini. sambil keluar dari mobil,nampaknya mereka tak sabar mengomentari perjalanan malam ini dan aku sudah siap menjadi wadah untuk mencurahkan cerita mereka. Mereka berenam terlihat sangat mudah berinteraksi dengan warga disini, apalagi dengan anak-anak di sini yang antusias ingin melihat dan berkenalan dengan para tamu agung yang hadir malam itu. Tak lama kemudian, emak menghadirkan kopi dan hidangan hasil masakan kemaren sore. Mungkin mereka sudah mafhum kenapa masakan kemaren sore, hehe. Sesi selanjutnya, dilanjutkan dengan berbagai obrolan untuk membahas berbagai masalah di kampung, maklumlah mereka kan para calon pemimpin, jadi serius kalau bahas soal beginian, tapi kadang dicampur dengan bullyan cerdas sesama antar  SL, yah begitulah anak-anak SL, tapi seru.
Papi beraksi
   Minggu 6 Oktober 2013, sebuah kelas yang diklaim sebagai “Kelas Kreatif” akhirnya jadi juga diselanggarakan di SDN 25 Sawang, Aceh Utara. Dilihat dari namanya tentu ini bukan kelas biasa, yang murid selalu mendengar ceramah monoton dari gurunya, atau siswa harus membaca dari halaman 10 hingga 20 dalam waktu satu jam pelajaran, tentu tidak seperti demikian, ini adalah kelas yang pokoknya kreatif. Kelas ini diinisiasi dan dimotori oleh orang-orang kreatif yang tergabung dalam SL. Kebetulan yang datang ada Bang Hijrah, Fatthun, Nadya, dan ditambah teman mereka, ada Tomi, Bang Ari, dan Eja. SL ini bermuatan anak-anak muda hebat yang selama ini mewarnai Banda Aceh. Tak perlu diragukan lagi, peran mereka dalam bidang banyak hal, mulai dari entrepreunership hingga masalah pendidikan di Aceh, peran mereka dapat dilacak jejaknya. Senang sekali tentunya kesempatan emas ini di peroleh oleh anak Araselo yang memang butuh lebih banyak sentuhan seperti ini. 
    Minggu pagi, anak-anakku tak terbiasa dengan kondisi ini, biasa minggu waktu bermain atau membantu peutah pinang, sekarang ganti suasana, yaitu harus berangkat sekolah seperti hari-hari masuk biasa, bedanya ada wajah ganteng dan cantik dari kota nan jauh di sana yang sering disebut Kutaraja, datang mewarnai cerita minggu ini. tampak dalam raut wajah anak-anakku, semangat dan antusias. Berlari-lari, kejar-kejaran, dan bergurau menjadi pemandangan saat menuju sekolah. Sampai di bukit kecil, tempat sekolah kami dibangun, semua anakku sangat fokus mendengarkan Bang Hijrah dan kawan-kawan menerangkan cara membuat piyoh toys dari kertas kokoru. Awalnya cukup terkondisikan, semua anak-anak terlihat serius mendengarkan. Tak lama kemudian saat praktik pembuatan, suara-suara meminta kertas, lem, gunting datang dari berbagai arah, seperti saat para anggota DPR menghujani interupsi untuk ketua. Tambah mulai nampak kualahan anak-anak SL melayani anak-anakku. Semua dikerahkan untuk membantu, tapi tetap aja kualahan, ya begitulah jadi guru sehari bagi anak-anakku memang harus extra tenaga dan butuh banyak stok kesabaran, hehe. Dari sini minimal anak-anak SL dapat merasakan energy semangat dari anak-anakku yang ingin maju. Seperti yel yel mereka saat menyambut teman-teman SL ini, begini yelnya: “selamat datang abang, selamat datang kakak, selamat datang kami ucapkan 2X. inilah kami yang ingin maju bersama-sama, sambutlah kami yang ingin pintar bersama-sama. SDN 25 Sawang, pintar dan hebat. 
beradu action
Jayus, siapa yang gak kangen?
      Cepat rasanya kelas kreatif ini berlalu, tak terasa sudah lebih dua jam kami semua keasyikan membuat karya. Jepretan kamera tak henti-hentinya menyambut gaya anak-anakku yang memegang hasil karya mereka. Begitu juga dengan para abang dan kakak yang pandai bergaya di depan kamera, seolah tak mau kalah beradu dengan anak-anakku. Kini anak-anakku tampak puas karena hampir semua bisa membuat hasil karyanya. Kini mereka menjadi anak kreatif. Anak-anakku terlihat terkesima dan begitu terkesan bertemu orang-orang hebat ini. aku yakin, dalam benak anak-anakku akan tertanam kesan positif karena telah melihat orang aceh sendiri yang mengajari dan peduli terhadap mereka. Setidaknya memberikan gambaran mereka, tentang sisi lain kehidupan orang Aceh, yang hidup dibelahan bumi Aceh lainnya. Begitu juga dengan anak-anak SL, akan ada sesuatu referensi lain, tentang kehidupan orang Aceh di sisi tanah Aceh lainnya. Akhir dari pertemuan singkat tapi kaya makna ini disudahi dengan perjalanan pulang bersama menuju ke rumah masing-masing. Tentu anak-anakku selalu akan menantikan kehadiran kembali orang-orang hebat ini. Semoga saja orang-orang seperti ini, akan terus ada dan beranak pinak di bumi Nanggroe ini, amin.



   

Rabu, 02 Oktober 2013

Ini contoh kurang baik..hehe. tiga jam (pukul 02.00 WIB) menjelang deployment PM V ke penempatan masing-masing, baru ngrekam lagu parodi buat saat penempatan nanti, biar gak lupa..hehe dasar para deadliner!

Selasa, 01 Oktober 2013

HARI Pendidikan Daerah (Hardikda) ke 54 dimeriahkan oleh berbagai seremonial yang senyatanya bersifat insidental. Sesuai amanah yang disampaikan oleh Gubernur Zaini Abdullah, sesungguhnya masih ada pekerjaan rumah yang selalu mengikuti langkah kita. Langkah kita bersama membenahi mutu pendidikan Aceh.

Salah satunya adalah refleksi tentang kesenjangan peran pelaku pendidik formal dan non formal.  Segelintir masyarakat masih memandang bahwa pendidikan adalah peran dinas pendidikan, majelis pendidikan, UPTD, pengawas sekolah, kepala sekolah, dan guru saja. Sehingga saat ada terjadi kegagalan mencapai target pada ujian nasional beberapa waktu lalu, sekelompok aktor formal pendidik ini yang disalahkan. Memang hal ini wajar karena mereka adalah perpanjangan tangan negara yang mempunyai kewajiban konstitusional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Akan tetapi, senyatanya semua pihak mempunyai andil yang sama. Lebih adil kiranya jika “kue” peran pendidik ini kita rumuskan kembali.

Banyak teori yang menyebutkan bahwa lingkungan sangat berpengaruh dalam mencetak generasi muda. Pada bagian ini pendidik non formal patut mengisi perannya. Contoh yang umum tentang motivasi anak dalam belajar. Seorang anak tentu akan memiliki etos belajar yang bagus ketika lingkungan sekolah mendukung dan berbanding lurus dengan lingkungan keluarga yang juga mendukung. Keluarga yang kondusif, dengan orang tua yang selalu memperhatikan pola belajar anak dan memberikan stimulus-stimulus dalam bentuk perhatian dan kasih sayang. Keluarga menjadi katalisator kesuksesan anak.

Lingkungan pendidikan (baca : sekolah) tidak terlepas dari pengaruh  lingkungan sekitar. Sekolah tidak dapat diisolasi dari hiruk-pikuk masyarakatnya. Senyatanya sekolah adalah model sebuah masyarakat mini. Sekolah adalah tempat anak didik belajar tentang bagaimana hidup. Sekolah justru harus lebih “dikawinkan” lagi oleh lingkungan masyarakat, karena masyarakat juga merupakan alat pembelajaran yang hidup dan nyata bagi peserta didik.

Bagaimana momentum Hardikda kita arahkan untuk memperbaiki kondisi ini? Tentu dengan optimisme menata kembali keseimbangan peran masyarakat sebagai pendidik non formal dan lembaga pendidikan sebagai pendidik formal dalam kancah belajar mengajar. Bahasa populernya adalah menciptakan sebuah “ekosistem pendidikan”. Istilah ini diadopsi dari Richard Florida dalam The Rise of the Creative Class (2002) yang dikutip Yudi Latif dalam tulisan perspektifnya “Memuliakan Talenta” (2013). Ekosistem pendidikan menciptakan sebuah lingkungan kondusif yang semaksimal mungkin mendukung dan mendorong peserta didik untuk tumbuh dan berkembang. Ekosistem pendidikan ini bagaikan lingkungan tempat ikan hidup, yang tidak hanya didukung oleh adanya asupan makanan yang mencukupi. Lebih dari itu, ikan membutuhkan tingkat keasaman air yang terkontrol, kuantitas predator dan penyakit yang relatif rendah, serta yang terpenting adalah adanya daya dukung komponen lingkungan seperti adanya tumbuhan dan komponen alam lainnya sebagai tempat berlindung yang nyaman bagi ikan.

Ekosistem pendidikan dapat tercipta ketika ada kesadaran tingkat tinggi dari pihak masyarakat untuk berperan aktif mengawal pelaksanaan pendidikan. Masyarakat ikut terlibat dalam menciptakan suasana kondusif dan teladan bagi generasi yang sedang dicetak. Bayangkan ketika semua pihak berperan dalam mensukseskan pendidikan. Semua berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan perannya masing-masing. Segelintir anggota masyarakat yang mempunyai hak dan otoritas dalam mengontrol lingkungan dalam skala lebih luas misalnya, menciptakan kebijakan yang mendukung terciptanya suasana kondusif untuk anak didik. Contoh lainnya mahasiswa yang beruntung karena dianggap lebih terdidik, ikut terlibat aktif membimbing adik-adiknya di lingkungan “gampongnya” masing-masing. Bisa juga para bapak atau ibu yang duduk di lingkungan legislatif, yudikatif, dan eksekutif ikut berperan aktif dalam dunia pendidikan, minimal memperhatikan anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya yang masih duduk di bangku sekolah. Tentu semua akan terlihat indah dan harmonis ketika semua sinergis.

Aceh dalam konteks lokalitas atau local wisdom telah mempunyai modal untuk menciptakan ekosistem pendidikan. Contoh riilnya adalah Aceh mempunyai perpustakaan gampong yang jika digelorakan kembali akan menjadi salah satu wahana dalam menciptakan atmosfer pendidikan yang lebih bergairah. Aceh juga mempunyai balai-balai, warkop atau cafe sebagai ruang diskusi yang representatif dan memungkinkan dukungan dunia pendidikan dari para pihak pendidik non formal. Belum lagi keberadaan dayah yang sejak dahulu ikut membentuk generasi muda Aceh. Di pelosok-pelosok gampong Aceh juga mempunyai jam belajar yang padat, terutama untuk mengkaji ilmu agama. Ini berpotensi baik sebagai proteksi terhadap pengaruh-pengaruh budaya global yang kurang sesuai dengan keluhuran budaya lokal. Masih banyak kearifan lokal Aceh lainnya yang berpotensi besar sebagai embrio untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih sinergis antara satu pihak dengan yang lainnya.

Kita harus mulai memiliki pandangan tentang prioritas untuk menciptakan ekosistem pendidikan bagi generasi Aceh yang lebih baik. Baik pihak yang secara langsung diamanahi oleh undang-undang atau para pendidik non formal yang mempunyai kewajiban moral atas ini. Seperti yang selalu dikatakan oleh pendiri Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan bahwa “mendidik bukan hanya tugas guru semata, tetapi mendidik adalah tugas bagi orang-orang terdidik”. *opini ini dipublikasikan oleh Atjeh post
    Sekitar tahun 2001 yang lalu, ada perselisihan pendapat antara kedua orang tuaku. Kedua orang hebat ini mempunyai argument masing-masing untuk menentukan tempat yang nantinya menjadi sumurku untuk menimba ilmu. Maklum saja bagi sebuah keluarga yang baru pertama kalinya mempunyai anak yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMP, ini menjadi sesuatu yang harus benar-benar dipertimbangkan. Konon masalah ini tak berhenti di ruang sempit rumah tangga saja, kedua orang tuaku masing-masing mencari “koloni” dari luar rumah tangga, yang dianggap lebih pengalaman, mungkin untuk sekedar mencari bahan masukan atau tambahan argumentasi, biar lebih mantab. Ini artinya Ayah dan Ibuku sudah melibatkan pihak luar untuk memutuskan internal keluarganya, tentu ini akan menjadi tak mudah. terlebih ada keluarga besar yang ikut memberi masukan.
    Sebuah hal yang menarik di rumah kecil kami yang tentu sebagai latar belakang adanya perbedaan pendapat. Pertama latar belakang keluarga ayahku yang lebih didominasi oleh kalangan berpendidikan pesantren. Sehingga ayahku lebih memilih aku untuk meneruskan ke pesantren. Pertimbangan ini juga dilatari dengan adanya pengaruh lingkungan yang semakin kuat daripada orang tua sendiri untuk mendidik anaknya. Maklum saja kedua ayah dan ibu orang sibuk yang bekerja di kantor. Masih jelas di ingatan sejak kecil pembantu rumah tangga menjadi orang tua keduaku. Itulah sebabnya ayahku lebih berat untuk memasukan ke pesantren dari pada SMP  karena selain pendidikan pesantren yang ketat, pengaruh lingkungan cukup minim.
Bagaimana dengan ibuku? Jelas ibuku adalah orang berlatar pendidikan bukan pesantren. Konon tujuh saudara ibu semua disekolahkan di sekolah pemerintah hingga setara diploma, hasilnya jelas semua sekarang menjadi pegawai. Tentu waktu itu ibuku lebih memilih aku untuk melanjutkan ke jenjang SMP non-pesantren. Selain alasan berijazah juga karena bercermin dari keluarga ibuku semua anak-anaknya sekolah dipendidikan formal kota. Keluarga besar ibuku sangat mencerminkan bagaimana hasil pendidikan formal yang pluralistik dan sekularis. Dari sisi pergaulan, keluarga besar ibuku cukup luas, banyak teman dan jaringan itulah ciri keluarga besar dari ibuku. Mereka hingga kini mengisi berbagai profesi mulai dari dosen, dokter hingga pengusaha.  Dari sisi keragaman sebagai hasil pendidikan juga terlihat dari perbedaan kenyakinan dan agama yang mereka yakini. Keluarga ibuku terpecah dalam dua kenyakinan karena pergaulan dan keterbukaan mereka terhadap pengaruh selama dalam masa pendidikan.  
    Latar belakang kedua orang tuaku ini terlihat juga dalam perjalanannya mendidik anak-anaknya. Aku sangat beruntung karena keduannya memang sepakat untuk gotong royong saling mengisi. Waktu mahrib tiba, ayahku bersiap untuk menggembleng dasar-dasar ilmu agama, mulai dari membaca iqro’, sholat, dan bersuci setidaknya hingga aku lulus sekolah dasar. Sehabis sholat Isyak peran bergeser ke ibu, dia selalu membimbing belajar dan mengejarkan pekerjaan rumah hingga pukul sembilan malam.
    Lalu bagaimana hasil akhir dari dua perdebatan itu. tentu kemudian ada kompromi dalam perdebatan ini. nampaknya keduanya gak mau mengalah karena ini soal masa depan anaknya. Hingga suatu saat ada sebuah informasi datang ke telinga ayah. Bahwa ada pondok pesantren yang mengharuskan santrinya sekolah. Jelas kemudian ayahku langsung tertarik untuk mencari info lebih dalam soal sekolah ini. tak lama informasi yang terkumpul cukup banyak, kemudian terjadi dialog antara ayah dan ibu. Disitulah kemudian lahir sebuah kesepakatan bersama untuk menyekolahkanku dalam dua alam yaitu alam pondok pesantren dan alam sekolah formal atau yang dikenal dengan pesantren modern. Keputusan itu cepat, karena semua unsure keinginan telah terpenuhi dari masing-masing pihak. Unsure pesantren dan unsure sekolah formal yang terwadahi dalam satu tempat.
    Dari situlah kemudian aku mulai mengenal bagaimana kehidupan pesantren dan sekolah formal. Kehidupanku kemudian berubah tiga ratus delapan puluh derajat, karena harus menyelami kehidupan yang padat dan penuh pengalaman. Sekarangpun aku baru sadar bagaimana dahulu ayah dan ibu berbeda pendapat hingga berakhir pada sebuah kompromi yang cerdas untuk menyekolahkan aku di pesantren dan sekolah formal sekaligus. Dan tentu aku baru merasakan hasil yang lebih ketika menjalani kedua macam pendidikan ini. Semua tadi adalah hasil usaha keras kedua orang tuaku untuk menjadikan aku anak yang berguna. Terimakasih ayah ibu.   


Sabtu, 21 September 2013

Haii! peserta Festival Gerakan Indonesia Mengajar, berikut puisi yang dibacakan oleh Rozali. seorang anak murid dari SDN 25 Sawang, Aceh Utara. Video ini hanya menunjukan bahwa, anak-anak pelosok Aceh Utara mempunyai mimpi dan cita-cita yang tinggi. Ayo dukung mereka!!
Rozali demikianlah anakku ini dipanggil. Anak aktif dan pemberani ini tak kenal kata "hanjet!", yang artinya "tidak bisa!", seandainya diminta untuk tampil atau mengerjakan tugas. Rozali anak periang yang tak banyak mengeluh. Tak hanya itu saja, anak ke tiga dari lima bersaudara ini mempunyai sikap yang sopan dan mempunyai sikap kepemimpinan yang patut dicontoh oleh teman-temannya. sikap kepemimpinan ini selalu ditunjukan saat perannya yang selalu menjadi pemimpin upacara bendera. Tak hanya itu, Rozali menjadi pemimpin kelas sejak Ia kelas 5. Rozali juga sering ditunjuk oleh Kepala Sekolah Pak Zulfikli untuk melatih teman-temannya menjadi pemimpin upacara. lebih dari itu sebenarnya sikap kepemimpinnya ditunjukan oleh anak ini ketika sering menggantikan temannya menjadi petugas upacara. Semua peran ia bisa, mulai dari membaca teks UUD 45 sampai menjadi petugas pengibar bendera.

Pagi hari Rozali selalu menyapaku dengam godaan khasnya, yaitu ngomong bahasa Aceh. awalnya aku kesulitan memahami apa perkataannya, tapi lama kelamaan aku memahami. "pu haba, pajan ka truk?" (bagaimana kabarnya,kapan sampai sekolah?) sambil mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman, ia ngomong dengan intonasi cepat. Akupun hanya tersenyum, karena tak bisa menjawab apa yang ditanyakan anak ini. Tak lama kemudian ia selalu membantuku membersihkan halaman kantor. Saat kawan-kawan lain sibuk bermain, ia lebih sering membantuku membawa kotak sampah.

Rozali tinggal bersama kedua orang tua dan kakak perempuannya. Rumahnya tak bertetangga, karena terletak di pinggiran hutan jauh dari pusat kampung. Rumah papan kayu ini terletak disebuah bukit, yang belum teraliri dengan listrik dan air bersih. Jarak rumah Rozali dengan sekolah sekitar 500 Meter, dekat memang karena sekolah kami kebetulan terletak jauh dari pusat kampung dan lebih dekat dengan rumah Rozali. Letak rumah Rozali yang sekitar 2 KM dari pusat kampung, tak membuat anak ini tak mengaji di Balai. setiap pukul 5 sore, ia sudah terlihat di kedai depan balai, untuk menunggu Teungkunya datang. 

Selain pintar dan mempunyai sikap kepemimpinan, Rozali juga mempunyai ketertarikan dalam musik dan puisi. Entah berapa kali anak ini selalu menawarkan diri untuk direkam saat mendendangkan lagu seperti artis. Jiwa seninya juga membuat ia jago membuat puisi. ketertarikan pada lagu dan puisi ini membuatnya selalu ingin menjadi artis terkenal. Semoga cita-citamu tergapai hai Rozali, pak guru selalu mendoakanmu ^_^
Krue Seumangat Aneuk Nanggroe!

Muhibbudin (Kelas 6)

Nur (Kelas 3)

Saryulis (Kelas 3)

M. Rizal (Kelas 6)
Di depan camera menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anakku. Yuk tengok bagaimana ekspresi mereka saat di foto.

Sabtu, 14 September 2013

Nur (Kelas 3)

Nurdini (Kelas 4)

Akbar (Kelas V)

Hafidz,Ikrom,Fikri (Kelas V)

Tambah Muhibbudin (kelas 6)
Pose model ala anak SDN 25 Sawang, "Ayo anak-anak, kita berpose seperti model di TV" kataku. Inilah dia sebagian foto yang terbaik.

Kamis, 12 September 2013



Logo Akber Lhokseumawe
Kegiatan Class
               Entah tepatnya tanggal berapa waktu itu, sekitar bulan Maret 2013, sebuah undangan mengisi acara tiba-tiba datang dari Akademi Berbagi Medan yang dibawa oleh Rifki Furqon, anak Aceh yang kebetulan saudaranya menjadi kepala

sekolah Akber Medan. Tentu tawaran ini menggiurkan akan tetapi, karena suatu hal kami akhirnya tidak menyanggupinya. Dari sini, kemudian hadir sebuah gagasan untuk membuat Akber Lhokseumawe. Tetapi kemudian pertanyaannya adalah siapa yang mau bersusah payah membangun sebuah perkumpulan yang tak menghasilkan profit dalam bentuk materi. Awalnya tentu kami masih berfikir-fikir bahwa, tidak akan ada yang mau bersusah payah membangun fondasi awal Akber di Lhokseumawe. Ide ini kemudian berlarut tak teraplikasikan dalam sebuah gerakan nyata, lebih pada angan-angan yang terus kami impikan dan selalu dibayangi sebuah pertanyaan besar, kapan Akber terwujud di bumi Nanggroe ini? tentu semua dengan sejuta harapan yang diidamkan bersama, yaitu membangun ruang berbagi dan dialog di tengah-tengah remaja Aceh.

                Bulan keempat kami di Aceh, sebuah undangan kali ini datang dari sebuah lembaga kursus bahasa Inggris yang bernama HES, kepanjangan dari Hana Engglish School. Lembaga ini berdiri di Lhokseukon, sebuah kota kecil  di Aceh Utara. Di sinilah seorang bernama Bang Hanif dengan penuh optimisme membangun usaha dibidang jasa itu. Selanjutnya kami mengetahui bahwa Bang Hanif ini juga merupakan tenaga pengajar Bahasa Inggris di Universitas Malikhussaleh, yang menjadi salah satu kampus besar di Aceh.  Orang pekerja keras ini mengundang kami untuk sedikit menceritakan pengalaman selama tugas  di depan para peserta kursus.


                Singkat cerita dari sinilah kemudian ada sebuah keajaiban yang mengharuskan Akber Lhokseumawe lahir. Ajaib, karena kami dipertemukan Bang Hanif yang ternyata sejak lama beliau berkeinginan membuat Akber di Aceh, akan tetapi belum terlaksana. Dari sinilah kemudian angan-angan kami dapat terwujud, dan akhirnya kami bersepakat untuk bersama melahirkan Akber di Nanggroe.

Suatu pekerjaan akan mudah jika dikerjakan dengan bergotong royong, demikian halnya dengan Akber Lhokseumawe. Di awal perintisaanya, kami juga melakukan konsultasi dengan Sekolah Demokrasi. Dengan respon yang positif, anak-anak Sekolah Demokrasi akan membantu apa saja yang bisa dijangkau oleh mereka. Waktu itu sekitar bulan april Sekolah Demokraasi menawarkan tempat dan peserta untuk kelas pertama Akber, sehingga pada akhir bulan itu kami bisa mewujudkan Akber di Lhokseumawe. Kelas pertama demikian kami menyebutnya, lagi-lagi gotong royong untuk membuat kelas perdana ini, beruntung kami karena ada Rifqi Furqon waktu itu yang mau membantu untuk menjadi pembicara pertama di Akber Lhokseumawe.

                Memang tak ada sesuatu yang mudah diraih tanpa adanya sebuah usaha, begitu juga dengan Akber ini. dalam perjalannya Akber tentu menemui berbagai hambatan dan rintangan. Kini Akber sepenuhnya dikelola oleh para remaja hebat asli Aceh. Sedangkan Pengajar Muda hanya sedikit membantu jika ada yang dibutuhkan dalam perjalannya. Setiap bulan Akber selalu menyelenggarakan kelas di Kota Lhokseumawe dengan berbagai tema yang mampu menarik para remaja di kota ini. selain itu, kini Akber juga menjadi salah satu forum yang berperan dalam bidang sosial. Ketika bencana gempa terjadi di Takengon dan Bener Meriah, mereka ikut turun tangan membantu saudara mereka.

                Kami para Pengajar Muda berharap Akber Lhokseumawe selamanya menjadi ruang berbagi, ruang dialog anak-anak muda Aceh tentang berbagai hal positif untuk membangun Aceh yang lebih baik. 


Kamis, 05 September 2013

Masa lalu
Pak Geuchik Banta tiba-tiba menghampiriku, sambil menggenggam bendelan kertas agak lusuh yang bertuliskan “Proposal Permohonan Pengadaan Listrik Gampong Araselo”. Awalnya aku mengira ada sesuatu hal serius yang ingin beliau sampaikan, tapi perkiraan itu meleset, karena Pak Geuchik hanya ingin meminjam sejenak Laptopku, untuk mengotak-atik surat sebagai lampiran proposal. Kisah bendelan lusuh ini aku ingat kembali setelah delapan bulan bergaul dengan masyarakat Araselo. Tepatnya saat aku pulang dari Banda Aceh dan tak disangka bahwa malam ini adalah malam pertama warga bercengkrama dengan yang namanya listrik PLN. Ini bukan momentum yang remeh temeh, karena ini adalah perjuangan panjang selama kurang lebih lima tahun. Pak Geuchik pendahulu hingga sekarang, Pak Banta yang dibantu masyarakat naik turun gunung, membawa bendelan lusuh ini. Mereka tak berhenti keluar masuk mulai dari kantor kecamatan sampai Kantor Bupati, tujuannya yaitu memohon dihadirkannya listrik di kampung kami.

Araselo selama ini tak beristrik PLN. Syahdan waktu awal pembangunan kampung di bekas areal hutan ini, jamak masyarakat di sini menggunakan tenaga surya sebagai penerangan dan cukup untuk menghiduokan satu radio untuk memecah keheningan. Waktu terus berlalu, tentu ini tidak sesuai dengan perkembangan jaman, karena kebutuhan akan hiburan dan peralatan elektronik lainnya semakin tak terelakan. Maka tak heran jika sebelum adanya listrik PLN kedai-kedai sebagai jantung kedua pusat peradaban kampung setelah masjid, ramai karena hadirnya daya listrik yang lebih besar bersumber dari genset. Itulah sebabnya kedai bagaikan lampu yang dikerubungi anai-anai karena saking banyaknya orang.

 Berlanjut pada kisah bendelan lusuh “ajaib” yang di bawa pak Geuchik tadi. Alhasil perjuangan pak Geuchik ini membuahkan hasil, sekitar tiga bulan menjelang puasa 1434 H. Petugas PLN naik ke kampung dan tak kurang dari satu bulan, pekerjaan membentangkan kabel dan tiang listrik sepanjang 10 KM itupun rampung. Sebuah kerja kompak yang membuahkan hasil memuaskan. Dan kini saat hari pertama listrik dialirkan, aku baru sadar akan ajaibnya benda bendelan lusuh tadi. Yah kini bendelan ini merubah segala aspek kehiduan masyarakat Araselo. Betapa tidak malam ini kedai buka lebih lama dari biasanya yang hanya pukul 01.00 malam. Termasuk kedai emakku, ternyata emakku berfikiran bahwa listrik PLN lebih murah dari pada listrik genset untuk menghidupkan peralatan elektronik TV, sehingga emakpun tak ragu untuk melayani pembeli lebih lama dari biasanya. Dampaknya anak-anakku juga ngikut nongkrong lebih lama, karena menanti orang tua mereka yang masih keasyikan menonton layar kaca. Paginya lebih heboh lagi, suara penyiar  berita TV, yang selama ini aku rindukan, karena tak pernah terdengar, meramaikan suasana pagi di warung emakku. Belum lagi dengan dendangan pagi lagu dangdut dari radio baru tetanggaku  yang ikut meramaikan pagi itu.

Laju dampak adanya listrik tak bisa dihambat lagi. Banyangkan saja sekarang alokasi keuangan masyarakat lebih dipertimbangan untuk menghadirkan barang elektronik. Setidaknya kini di Araselo ada dua kulkas yang dibeli dua hari pasca ada listrik. Rumah-rumah kini mulai mempunyai ruangan privat untuk hiburan yang kadang sedikit menggeser budaya komunalisme di kampung, dan yang pasti anak-anak sekarang akan lebih sering menonton televisi. Ah, semua itu tentu suatu masalah yang tidak usah menjadi focus yang penting sekarang tentunya anak-anakku bisa belajar dan membaca buku pinjaman perpustakaan di malam hari, tanpa ada hambatan. Kini tak ada alasan gelap, tapi tentu kemudian alasan akan berganti dengan alasan lain yang lebih canggih kalau anakku lalai mengerjakan tugas rumahnya. Ini wajar, tentu menjadi tantangan terbaruku, dan tentu tantangan baru buat orang tua wali, karena harus pinter-pinter mengatur waktu.

Malam itu selain menjadi malam pertama kampungku beranjak dari kegelapan, sekaligus menjadi malam istimewa karena bertepatan dengan hari meugang. Sebuah tradisi masyarakat Aceh menjelang bulan suci ramadhan untuk mengkonsumsi daging sapi. Malam itu mungkin beribu-ribu sapi di Aceh ini disembelih untuk memenuhi kebutuhan daging. Tak hanya para orang tua yang sibuk, anak-anakkupun tak mau kalah.

Di malam meugang inipun aku memahami bahwa barang lusuh ajaib itu setidaknya menumbuhkan kepercayaan diri dan optimisme masyarakat bahwa selama ini masyarakat masih diperhatikan. Keberadaan listrik ini tentu akan menjadi sebuah harapan baru akan majunya kampung Araselo.


 
         
Kegiatan tadarus malam
Usailah Hari Meugang 1434 H kali ini yang diakhiri dengan gigitan terakhir untuk daging sapi yang dimasak rendang khas Aceh berkuah lemak. Sebuah tradisi yang tak akan lekang dalam ingatanku bagaimana menjalani hari-hari sambil mengamati hiruk-pikuk masyarakat mengisi cadangan lemak dan protein dalam tubuh, guna menghadapi puasa Ramadan esok harinya. Spontan acara makan daging harus dipercepat, karena adzan sholat Mahgrib untuk tanggal 9 Juli 2013, telah dikumandangkan oleh Teungku Imum Masjid. Suara lirih untuk merespon panggilan adzan yang aku lakukan kali ini berbeda rasanya. Berbeda karena waktu inilah peralihan menuju bulan suci dan berbeda karena saat itupula aku teringat masa seperti saat ini yang biasa bersama keluarga di rumah. Usai melantunkan bait demi bait panggilan adzan, aku bergegas membantu emakku yang memungut piring berlemak dan sejumlah gelas. Setelah usai aku mulai siapkan diri untuk menunaian panggilan Rob.


            Kini Ramadhan aku tekatkan untuk meningkatkan segala sesuatu yang terbaik seperti halnya Ramadhan sebelumnya, namun orientasinya berbeda, karena kali ini aku niatkan peningkatan terbaikku untuk anak-anakku dan masyarakatku di mana sekarang aku berpijak. Itu sedikit bocoran doa sehabis shalat sore itu. Malam pertama dan kedua aku merasakan Ramadan yang sungguh hikmat, berada dikampung pedalaman Aceh, dengan segala tradisi yang menyertainya. Saat siang semua masyarakat menjalankan kewajiban puasanya, saat menjelang puasa suasana semakin ramai, karena semua disibukkan dengan persiapan buka puasa, demikian dengan malam, semua bersujud dan bersimpuh di masjid untuk mengekspresikan kehidupan religiusnya. Semua berpadu dengan apik tanpa perbedaan mahzab atau teknis cara beribadah yang diributkan seperti di kota-kota.

Ramadan Produktif

            Sekilas, sehari dua hari nampak tak berbeda dengan kampung halamanku di Jawa. Namun tentu kemudian mulai terasa perbedaannya. Apa perbedaan yang aku rasakan? Masyarakat disini seperti membalik waktu, siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Mengapa demikian?  Jawabannya ada pada pola kegiatan masyarakat selama bulan suci yang berubah total. Pada waktu malam hari masyarakat menjalankan ibadah sholat teraweh yang umum di sini dilaksanakan sebanyak dua puluh tiga rakaat. Kemudian setelah itu ada yang berbeda, mereka tadarus sampai waktu sahur tiba. Inilah yang membuat beda dari daerah lain di Indonesia. Perbedaan semakin mencolok ketika rupanya tidak hanya tadarus, tetapi aktivitas siang dialihkan waktunya saat malam. Contohnya jam buka warung kopi yang keberadaan menjamur di Aceh dari kota sampai pelosok-pelosoknya. Aku tinggal di salah satu warung kopi, disitulah merasakan bagaimana meenunggu pelanggan sampai jam sahur, alias nonstop dari sore. Tidak hanya aktivitas ngopi aja ternyata, lebih dari itu aktivitas angkat kayu dari hutanpun dialihkan pada malam hari.

            Jelas dampaknya adalah waktu siang harinya. Ketika bakda subuh pertamaku di awal ramadahan, aku melihat pemandangan yang khas puasa di sini, yaitu pemadangan kampung mati. Nyaris dari subuh sampai menjelang siang tak ada hiruk-pikuk orang lewat terlebih orang bekerja. Orang keluar saat matahari persis di atas ubun-ubun, dengan wajah kantuk dan terlihat letih, itu pemandangan umum, terutama anak-anakku yang mengikuti pola kegiatan yang sama dengan orang dewasa. Awalnya aku berfikir ini hal yang wajar karena malamnya mereka beraktifitas hingga pagi hari, tetapi kemudian kalau dikaitkan dengan agenda di sekolah nantinya, pasti pola ini akan menghambat saat pelaksanaan pesantren Ramadhan nantinya. Dan terbukti, pesantren Ramadan di sekolahku dilaksanakan satu minggu setelah libur puasa. Alhasil hari pertama pelaksaan hanya ada lima anak murid yang berangkat bersama kepala sekolah dan satu guru. Dugaanku gak meleset ternyata, karena kondisi ini bertahan sampai hari ketiga, selanjutnya semua bubar, alias menghilang ditelan heningnya siang.
Ramadan produktif


            “Aku tak boleh lengah”, pikirku pagi pertama menghadapi kondisi ini. sengaja karena sebelumnya telah aku prediksi, pagi hari pukul delapan aku bergegas mandi dan merapikan seluruh atribut kebesaran saat mengajar. Aku pun bergegas berdiri si simpang tiga, depan rumahku dengan harapan anak-anak melihatku dan kemudian tertarik untuk ke sekolah. Sepuluh menit masih sepi, dua puluh menit kemudian berlalu, “benar-benar kampung mati” batinku. Tak seorangpun lewat. “Sabar saja, mungkin lima menit atau sepuluh menit lagi bakalan ada yang menyapa”. Gumamku sendiri di pertigaan itu. Benar saja jerih penantian itu membuahkan juga, terlihat dari jauh lorong empat, dua anak alit memakai seragam berjalan menuju pertigaan. Spontan energy semangatku kembali. “Assallamualaikum” sapaku, ‘Waalaikumussalam” “anak-anak ada puasa”? “ada pak” serempak mereka menjawab “alhamdulilah, “tunggu yang lain sebentar ya”. Lima menit berlalu, nampaknya Cuma Fauzan dan Maullidin yang bakal menjadi santriku di hari pertama ini. Tak mau kehilangan akal, aku ajak mereka memanggil anak-anak yang lain di sepanjang perjalanan menuju sekolah. Alhasil ada tiga tambahan anak lagi yang mau bangun pagi itu dan mengikuti kegiatan disekolah pagi ini.

            Demikian juga dengan hari-hari selanjutnya, nampaknya santri setiaku hanya lima anak ini. itupun dihari kedua mereka protes karena enggan lagi kegiatan pesantren kilat dilakukan di sekolah. Maklum saja sekolah jauh dan harus naik turun bukit, ini membuat kami semua cepat lelah. Oke, keputusanku bulat mulai saat ini kegiatan pesantren kilat aku alihkan ke balai pengajian. Anak-anakku nampaknya senang sekali dengan keputusan ini. kegiatan di balai, ternyata tak mampu menarik kehadiran lebih banyak lagi, tetapi alhamdulilah setidaknya sekarang bertambah tiga orang lagi. Dan kegiatan ini tak bertahan sampai seminggu, seperti yang aku rencanakan sebelumnya, karena kemudian anak-anak tak nampak lagi. Muncul pertayaan dalam benakku, mengapa demikian? Apakah anak-anakku terlalu terbebani dengan materi yang telah aku susun selama pesantren kilat? “Ah, nampaknya bukan karena itu”. batinku terusik, karena aku merasa kegiatan yang aku sodorkan semua menyenangkan, tak ada mata pelajaran seperti biasa, semua kegiatan aku balut dengan permainan, lagu, dan kegiatan lomba yang menyenangkan.

            Kegiatan bersama anakku diluar kegiatan pesantren ramadhan aku desain ulang dengan menyesuaikan kondisi yang ada. Nampak anak-anak tak sepenuhnya menghilang dari hadapanku. Karena sehabis sholat dzuhur mereka mulai berdatangan menghampiri rumahku. Saat itulah aku buka lebar-lebar pintu rumah. “ini kesempatan bagus” harapanku, setidaknya seharian mereka tak hanya membalas rasa kantuknya di dalam rumah mereka. Ini waktunya mereka produktif di hari puasa. Siang itu satu episode film kartun tentang nabi aku putar. Alhasil mereka ketagihan dan selalu minta episode yang lain. Tak mau kalah dengan anak-anak, aku siasati dengan peraturan. “kalau mau nonton lagi ada syaratnya”, pintaku. “apa pak syaratnya?” “ sebentar lagi aka ada lomba membuat karangan di majalah Bobo, siapa yang mau ikut?” tanpa ekpresi dan tak ada yang angkat jari satupun. “kalau nanti kalian berhasil mengarang dan menulis, bapak akan kasih film lagi”,tiba-tiba serentak mereka angkat tangan, nah, ternyata berhasil juga. Hari-hari selanjutnyapun sesuai kontrak, mereka mau mengarang untuk persiapan lomba dan tanpa disadari puasa mereka produktif.   

            Puasa hari keempat, aku ikuti saja ritme denyut kegiatan masyarakat dikampungku. Hal yang berat bagiku adalah teraweh dua puluh tiga rakaat, dengan tempo yang cukup cepat. Bagiku ini hal yang baru, meskipun sebelumnya di tempat asalku mahzab ini umum dipraktikan. Selama ini aku melaksanakan teraweh mengikuti sebelas rokaat, dengan tempo yang sedang. Di sini aku mengikuti pola masyarakat, meskipun ini berlawanan dengan fiqihku yang masih kukuh dua belas rakaat. Tentu keputusan ini aku lakukan dengan berbagai pertimbangan. Pertama aku hanya menjaga stabilitas kampungku. Yang perlu digarisbawahi bahwa permasalahan fiqih menjadi sesuatu hal yang sensitif di Aceh. Masyarakat di sini meskipun melaksanakan tradisi keIslaman secara turun menurun, mereka tetap mengamini bahwa mereka adalah Ahlul Sunnah Wal Jamaah, artinya adalah pengikut sunnah Nabi, alias merujuk perilaku nabi setiap dalam ritual yang mereka kerjakan. Diluar kominitas atau pola ritual yang mereka kerjakan, akan di sebut sebagai kaum Muhammadiyah. Ini sebuah kenyataan umum, bahwa bagi pelaksana teraweh sebanyak dua belas rakaat adalah bukan Ahlul Sunnah tapi mereka adalah Muhammadiyah. Bukan tanpa konsekuensi bagi orang yang menyandang gelar ini, secara sosial penyandannya akan pelik.

            Hari keempat ramadahan disini aku melihat sebuah kenyataan yang kadang membuat gregetan dan sedikit maklum. Biasa melihat dikampung asalku, masjid akan sepi dari jamaah sholat teraweh ketika sudah mendekati waktu lebaran, atau minimalnya separoh bulan Ramadan. Di sini aku melihat hal yang membuat aku tercengang.  Baru hari keempat jamaah sholat teraweh tak lebih dari delapan orang untuk kaum adam. Selebihnya mereka terlihat di pusat peradaban yang baru bagi mereka yaitu warung kopi. Entah apa yang ada di dalam benak pikiran masyarakatku disini. Tentu ini menjadi alasan keduaku mengapa aku harus selalu terlibat dalam kegiatan teraweh, selain karena ingin menadapat ridha Illahi, yaitu jelas sebagai orang baru disini aku hanya ingin memberi contoh dengan tindakannku. Aku ajak anak-anakku untuk mengikuti teraweh, meskipun tak selesai. Istiqomah dan jangan absen sekalipun kecuali jika sakit.       

            Memang kemudian anak-anakpun mengikuti orang-orang dewasa yang sebagaian besar kehidupan malam ramadhannya hanya nongkrong di warung kopi. Tapi, tak apalah aku hanya berkewajiban memberi mereka semacam contoh tentang bagaimana harus berkomitmen dengan agama itu.
    Sekali lagi, gerakan ini semacam pemantik bagi semua kalangan untuk lebih serius memperhatikan soal pendidikan di Aceh. Ini bukan sebuah program kerja selama Pengajar Muda dari Gerakan Indonesia Mengajar berada di Aceh saja, melainkan ini adalah sebuah gerakan kesadaran bersama untuk menebar kepeduliaan dan optimisme bagi semua pihak terhadap kondisi pendidikan. Aceh mungkin tak separah Papua atau daerah pelosok lain yang benar-benar kekurangan buku, karena akses mereka yang relative lebih sulit. Tetapi kemudian mengapa perlu adanya gerakan ini di Aceh? jawabannya adalah Aceh tak hanya butuh buku, tetapi Aceh butuh kepedulian.


                Hampir dua tahun sudah sejak Pengajar Muda angkatan pertama ditugaskan ke Aceh lalu menggagas gerakan ini yang kemudian gerakan ini sempat pasang surut dan mengalami mati suri. Terlebih sejak Pengajar Muda angkatan pertama mendadak meninggalkan Aceh karena alasan keamanan. Untung kemudian ada Penyala Aceh sebagai gerakan literasi Indonesia Mengajar yang memang harus berusaha keras untuk menghidup-hidupi gerakan ini, tapi kemudian karena tak ada kepastian akhirnya sejenak dihentikan. Pengajar Muda angkatan kedua datang, Alhamdulilah pelan-pelan dan dengan gotong royong gerakan ini kembali di gelorakan.


              Ini lebih karena Penyala Aceh sebagai salah satu lokomotif gerakan mempunyai keinginan kuat dan semangat menjalankan gerakan ini. “One Man One Book for Aceh” kembali ramai dan banyak menadapatkan dukungan dari personal-personal yang ada di luar dan dalam Aceh. Dukungan ini tentu dalam berbentuk kiriman buku dan surat untuk anak-anak Aceh. Bahkan, kemudian dukungan juga datang dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri. Mereka banyak mengirim post card dan pesan optimis untuk anak-anak Aceh. Mungkin kiriman ini bagi kebanyakan orang terlihat sederhana dan kecil-kecilan, tapi bagi anak-anak Sekolah Dasar, mendapatkan kiriman post card dari Eropa dengan coretan kalimat penyemangat di dalamnya menjadi sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan  sebelumnya. Tentu ini kemudian tak sederhana bagi anak-anak.

Salah satu sekolah sasaran one man

             Kini semua pihak mudah berkontribusi untuk pendidikan di Aceh. Cukup dengan mengirimkan buku atau pesan positif ke PO BOX 1144 Lhokseumawe, buku-buku mereka yang berasal di Luar Aceh atau di luar negeri sekalipun dapat sampai ke tangan anak-anak di pelosok Aceh Utara. Sampai saat ini Aceh Penyala dan Pengajar Muda telah menyaluran ke beberapa sekolah yang dianggap masih sedikit memiliki fasilitas buku bacaan untuk mendukung kegiatan belajar peserta didik.  Kami juga bersyukur karena selama kegiatan didukung oleh Perpustakaan Daerah Aceh Utara yang mau membantu untuk berperan yaitu meminjamkan buku mereka untuk program Perpustakaan Keliling.

Iklan lucu buatan papi piyoh


            Tentu semua pencapaian gerakan sederhana ini merupakan hasil gotong royong semua pihak. Kedepannya memang harapannya akan lebih banyak pihak yang campur tangan dan lebih peduli lagi dengan kondisi pendidikan di Aceh. Suatu saat nanti pasti Pengajar Muda akan meninggalkan Aceh, akan tetapi “ One Man One Book for Aceh” tak boleh berhenti seiring dengan selesainya masa penugasan Pengajar Muda. Gerakan ini harapannya terus menjadi pemantik kepedulian atau lebih tepatnya menarik orang untuk lebih memperhatikan soal pendidikan terutama di bumi Nanggroe ini.