Sabtu, 19 Oktober 2013

Jayus

Jayus

Jayus

Jayus

Jayus

Jayus

Jayus dkk

Jayus dkk
Jayus (3/4 Tahun) sebuah nama sebenarnya. namanya bukan terinspirasi dari sebuah tokoh yang muncul di media massa beberapa waktu lalu karena ulahnya memakan uang rakyat lewat jalan korupsi. Gayus Tambunan tenar belakangan sesudah artis cilik Araselo ini lahir. Bukan juga nama Jayus terinspirasi dari seorang yang bernama Jayus yang tenar karena tragedi Talangsari tahun 1989, biar tau tragedinya cek link ini.
Karena di Araselo listrik aja baru masuk tiga bulan yang lalu, pasti soal tragedi ini pasti ortu Jayus gak ngerti.
Atau jangan-jangan terinspirasi dari bahasa slang yang populer tahun 90-an, cek biar tau cek, silahkan  
setelah di konfirmasi ayah dan ibunya juga bukan dari kata itu. lalu apa, ibunya menjelaskan dengan penuh makna akan cinta..wuih, jadi alkisah nama ayah Jayus adalah Jamil dan Ibu bernama Yusmiyah. Nah, biar cinta pasangan ini abadi maka diambillah kata depan Ayah "Ja" dan kata depan nama ibu "Yus" jadi rumusnya begini: (Jamil-Mil)+(Yusmiyah-miyah)= Jasus, plok..plok...wuih cerdas ya ayah ibu Jayuz..hehe
Jayus terlahir istimewa seperti kawan-kawan lainnya, kenapa? ceritanya begini: pertama wajahnya photogenic banget, liat aja hasil jepretan saya saat mendokumentasikan wajah-wajah lucu anak Taman kanak-kanak, atau saat kawan-kawan dari Banda Aceh datang, Jayus langsung jadi obyek jepretan kamera. wah, calon model ni Jayus.
Kedua, Jayus ini anak cerdar, banyangkan saja anak ini punya aja alasan untuk tidak masuk kelas. memang Jayus selalu berangkat sekolah tapi habis itu gak mau masuk, kalau ditanya ada aja jawabannya mulai dari Ibu guru gak masuk, padahal jelas-jelas ada guru, pernah juga alasan gak bawa buku, padahal TK kan gak perlu bawa buku, atau adalagi, alasannya gak bawa nasi. ampyunn..cerdaskan alasannya..
Jayus juga udah pandai berbahasa Indonesia, meskipun masih TK dia selalu berceloteh pake bahasa Indonesia. "minta uang mak" atau "belajar pak".
Jayus selalu minta uang untuk jajan. anak ini tidak tak henti-hentinya selalu minta uang, maklum aja gaulnya di kedai, jadi kalau duduk sama Jayus pasti terdengar suara "nebi peng mak" atau "Yah, nebi peng" (emak beri uang). sampai-sampai ibunya pusing.
Jayus anak yang gak pernah takut, dia tergolong bandel dan tahan banting. seringkali tiba-tiba mukul teman yang lebih besar tanpa alasan. tapi lucu, karena habis mukul langsung ngekek sendiri. kalau berantem, gak tanggung-tanggung sama anak yang lebih besar dan jarang nangis.
pokoknya Jayus ini banyak tingkahnya, aku selalu kesepian kalau Jayus ini gak keliahatan. untung saja rumahnya tepat di depan rumah tempat aku tinggal, hanya terpisah jalan kampung. jadi anak ini selalu ada.
sering anak ini jadi pengawalku. saat anak lain pulang atau aku baru sampai rumah dari sekolah Jayus pasti udah mengekor dibelakangku, ikut masuk kamar, ikut di dapur, hingga nunggu di depan kamar mandi saat aku di dalam. hahah...lucu diikutin terus...
wah, bakalan kangen ni kalau besok pulang ninggalin Jayus...hiks

Jumat, 18 Oktober 2013

Pun, aku menikmati kebiasaan masyarakat di sini, saat malam hari atau di luar waktu itu, ketika ada kesempatan aku meluangkan atau karena memang kewajibanku sebagai anak yang tak rela hati meninggalkan emak sendirian di tengah-tengah ramainya malam versi kampungku. Emak selalu menunggu, di tengah-tengah pekatnya asap rokok yang sering membuat nafas ini sesak, atau di tengah-tengah obrolan kopi yang membicarakan tentang banyak hal, mulai dari soal politik hangat Qanun Bendera, aliran sesat, hingga isu regional kampung yang biasa sekali soal gosip tetangga. Minimal peranku di kedai adalah sedikit meringankan beban bagi tubuh emakku yang sudah mulai melemah karena dimakan usia.
Ya, itulah kehidupan malamku. Kehidupan malamku sangat bewarna , setidaknya dimulai dari senja saat kumandang adzan magrib diperdengarkan melalui corong-corng masjid, aku beranjak dari rumah tinggalku. Nampaknya karena rutinitas, aku mulai tak menghiraukan lagi pemandangan indah senja seperti biasa, langit merah di balik masjid kayu yang dihiasi deretan pegunungan, dan di sudut lain lautan Selat Malaka terlihat tipis seperti kabut. Tak lupa teriakan anak-anak dari balai menjadi tambahan indahnya suasana setiap sore.
Saat bintang sudah berani menampakkan eksistensinya, aku manfaatkan waktuku untuk sekedar meramaikan balai pengajian. Aku ikuti alur pengajaran yang telah dikurikulumkan oleh tengku masjid. Memang sedikit aku memodifikasikan kebiasaan di sini dengan sedikit pengetahuannku tentang soal baca Al-Quran dan iqro’, tapi tentu itu sangat minim, dan lebih aku ikuti cara orang di sini mengajarkan untuk anak-anakknya. Sesekali juga aku dipercaya untuk menjadi imam di masjid, menggantikan tengku, saat tengku harus masuk hutan, mencari rizki dari mahalnya buah jerna, atau saat tengku berdiri di deretan paling belakang sof sholat anak agam (cowok), untuk mengawasi, siapa-siapa yang bergurau atau salah saat mempraktikan gerakan sholat. Itulah kegiatan sebagian di waktu malamku.
Suara Adzan Isyak sekitar pukul 21.00 WIB, menandakan anak-anak boleh menyelesaikan ngajinya dan bersiap menjalankan sembahyang. Setelah sholat, mereka kembali melanjutkan aktivitas di kedai atau belajar bersama di rumah nenek Ponah. Bagiku aktivitas kini berlanjut untuk mengajari matematika atau menulis untuk anak-anak yang masih mau belajar. Di ruang tamu rumah, aku sediakan rak kecil untuk majalah anak dan buku yang aku beli. Harapannya buku-buku ini mau dibaca. Pukul 22.00 WIB, biasa anak-anakku ini harus sampai berkali-kali diingatkan untuk segera pulang lekas tidur. Tapi bagi anak-anakku, jam segitu belumlah waktunya tidur, karena justru waktu itu layar televisi sedang menjual acara-acara andalannya untuk menarik para pemirsa. Tentu saja anak-anakku tambah tidak mau beranjak dari kedai.
Pukul 22.00 WIB, kehidupan malamku belum berakhir, atau justru ini baru dimulai. Tapi dengan cara yang berbeda, bagiamana aku harus menyelami dan menjalaninya. Aceh bagiku menawarkan sesuatu hal baru, terutama kehidupan malamnya. Aku merasakan waktu malam di sini lebih panjang dan penuh dengan komunalitas yang kadang menghibur, memberikanku sebuah makna dan pelajaran, tapi tak jarang juga membuatku terlena dengan kenyamanannya. Aceh selalu menyuguhkan pelajaran baru disetiap malamnya, mempertemukanku dengan orang-orang baru yang membuatku lebih banyak mengenal banyak hal. Inilah kehidupanku yang lain, baru dimulai pukul 22.00 WIB.
Berawal dari sebuah adaptasi untuk mengkondisikan diri hidup disebuah rumah berkedai yang tentunya tidak semudah yang diperkirakan. Seminggu hidup di sini aku harus bertahan, mungkin mirip anak Salmon, yang harus memulai hidup di air laut Samudera Atlantik, saat ia beranjak dewasa setelah sebelumnya menikmati tawarnya air sungai. Sungguh berat, tapi harus dipaksakan. Malam itu pukul 00.00 WIB, tubuhku menjadi berat dan hampir tak sanggup untuk hanya sekedar duduk. Kelopak mata sudah tak sanggup dibuka, maklum pagi hari aku sudah bangun dan harus bersiap-siap menyapa anak-anak. Tak jarang malam itu aku harus berkali-kali mengusap air ke wajah, berharap menghanyutkan rasa kantuk dari wajah. Emak masih terlihat sibuk melayani orang yang duduk, sambil sekali-kali menggulung daun lontar tipisnya yang telah terisi tembakau untuk kemudian dihisab. Itulah senjata mujarab emak, selain kopi hitam untuk mengusir kantuknya setiap malam.
Tiga bulan di sini, aku seperti berada di planet lain karena tak memahami apa yang dibicarakan orang-orang di sekelilingku. Orang-orang di sini tak banyak memulai pembicaraan denganku, mereka biasa buka mulut saat aku bertanya terlebih dahulu. Sehingga wajar saja kalau kemudian aku diam, tak satupun orang berbicara denganku. Malam semakin larut, aku lihat jam ditanganku yang telah menunjukkan pukul 01.00 WIB, tetapi beberapa orang di kedai masih asyik menyimak televisi yang suaranya harus beradu dengan raungan keras genset di belakang rumah. Emakku orang yang telaten, ketika hanya satu orang yang tersisa di kedai, emakku tetap saja masih menunggu sampai orang itu pulang. Baru kemudian Araselo gelap gulita, karena kedai emakku menjadi penerangan terakhir di kampungku.
Delapan Bulan berlalu, aku masih bertahan di sini, di kedai emak yang selama ini menjadi tumpuan harapan satu-satunya emak untuk mencari rejeki. Selama itu aku juga lambat laun berubah, sekarang tubuhku telah berevolusi terhadap dunia malam Aceh, sehingga bisa bertahan seperti orang-orang di sini. Malam itu tak ada suara genset lagi, karena listrik telah mengalir melalui tali-tali hitam yang berkilo-kilo meter panjangnya terpanggul oleh tiang-tiang kokoh di sepanjang jalan. Kulkas, televisi berinci besar, sound system, dan lampu terang telah tersedia di kedai emakku. Kini orang semakin nyaman dan betah duduk di sini. Demikian denganku, aku lebih bisa menikmati TV di sini, dari pada sebelummnya saat masih di rumah, karena banyak komentator handal di sini. Kini aku tidak lagi seperti alien yang tak memahami bahasa planet lainnya, tapi kini aku bisa merespon pernyataan ataupun perkataan orang lain. Sesekali aku nikmati kopi hitam seperti yang lain, sehingga aku lebih tahan dan tak pernah mengantuk lagi. Bahkan kini tak bisa memejamkan mata ketika aku berusaha tidur di awal waktu. Kini aku telah berevolusi menjadi manusia insomnia.
Rupanya tidak hanya aku sendiri yang berevolusi, orang di sekelilingku juga demikian. Orang kini tak harus menunggu aku bertanya, karena sekarang bersahut-sahutan. Orang sekarang terbiasa melihat orang membuka laptop di kedai, dan kini orang duduk di kedai juga sesekali membuat alat pembelajaran untuk besok aku pakai untuk mengajar. Pernah suatu ketika orang di kedai bertanya-tanya ketika aku membawa kertas lipat, dan beberapa steak es krim. Malam itu aku harus menyiapkan kupu-kupu mainan dari steak es dan kertas untuk besok dipamerkan saat pelajaran SBK. Rencana malam itu aku akan membuat beberapa kupu sendirian sambil menunggu kedai bersama emak. Rupanya malam itu aku tak jadi membuat sendiri, karena kemudian bapak-bapak ikut membantuku membuat kupu-kupu palsu itu. Bahkan hasil buatan mereka lebih bagus, dari pada hasil karyaku, padahal awalnya mereka hanya meniru saja. beberapa kali, orang-orang di kedai juga membantu menggunting kertas karton untuk alat peraga keesokan harinya. jadi kerjaanku semakin ringan sekarang kalau aku kerja di kedai.
Saat itulah aku berfikir bahwa, bukan aku saja yang berubah karena kehidupan malam di sini, tapi kemudian warga Araselo juga berubah dan menyesuaikan diri dengan tingkahku. Mungkin perubahan itu tidak seberapa, akan tetapi minimal semua saling mewarnai.

   

Inilah Jayuz, ia baru berumur 6 tahun. ia asyik bermain sepak bola mini buatanku. kecil-kecil ia telah tau Evan Dimas salah satu pemain U-19 yang sering ia dengar saat nonton bareng di kedai kopi. ya, di sini bola tak mengenal usia, sejak heboh teamnas U-19 orang-orang kampungku suka sekali mengikuti jalannya pertandingan. apalagi ada dua pemain Aceh. orang-orang kampung selalu heboh kalau pemain Aceh kesayangan mereka menggiring bola. "ka u hai, awak Beuren, awak Beuren" (lihat hai orang Beuren).
Ini hikmah masuknya listrik selama tiga bulan ini. masyarakat di sini, ikut merasakan menjadi "manusia Indonesia", yang mana ikut merasakan senang, laiknya manusia Indonesia lainnya saat menyaksikan team kesayangannya menang. setidaknya tiga bulan yang lalu kami tak tau apa-apa. tapi saat listrik masuk, masyarakat di sini benar-benar merasakan menjadi bagian dari Indonesia. soal korupsi, soal MK, soal ini itu, yang menjadi masalah bangsa, kini menjadi bagian yang dibahas dan difikirkan oleh masyarakat di Araselo.

action!!

kohkoh (sembelih) lemoe (sapi)

pembagian si kameng (daging kambing)

si lemoe

 aneuk mit (anak kecil)

Selasa, 08 Oktober 2013

         Teman satu ranjang, satu sumur sumber ilmu, satu guru yang hebat-hebat, dan tentu satu sepermainan. wah, akhirnya nikah juga, terlalu cepet, tapi keren idealis memang pernikahan kalian. disaat seumuranmu masih fokus mengejar karier, tapi kau beranikan diri untuk tak hanya mengejar karier, tapi kebahagiaan berumah tangga, sebagai dasar mengejar karier, luar biasa, sungguh tak banyak pemuda sepertimu. Disaat kau banyak diragukan oleh orang karena keberanianmu, kau tetap maju dan yakin. tapi di sisi lain ternyata banyak yang mengagumi keberanianmu. bahkan kemudian banyak yang mengikuti langkah jejakmu..wow, sungguh nekad yang menular..hoho..oke sobat aku doakan semoga pernikahanmu berkah dunia akhirat..amin..

    Magrib 5 Oktober 2013, hujan masih membasahi tanah Sawang yang subur. Lantunan adzan terdengar indah, seolah tak mau kalah dengan desiran suara hujan sore itu. Aku bersama Nizam anak muridku, masih setia menunggu kawan-kawan Super Leaders (SL) yang sore itu untuk pertama kali akan menginjakkan kakinya di bumi Sawang, yang sebelumnya mereka hanya dengar saja. Seusai sholat magrib, kami kembali menanti kehadiran mereka yang konon ceritanya, butuh waktu dua hari satu malam untuk menuju ke tempat ini, sungguh kramat Sawang ini, bahkan butuh waktu lama untuk menjangkaunya. Alkisah perjalanan anak-anak SL tidak direstui oleh penjaga gunung seulawah agam, yang sempat mereka lalui saat perjalanan, alhasil si penjaga iseng mencopot ban mobil Avanza bernomor 753 LE yang mereka tumpangi, untung saja ulah usil itu tak membahayakan anak-anak SL, meskipun menghambat perjalanan mereka. Tapi jerih payah perjuangan mereka terbanyar sudah, karena sore ini akhirnya mereka sampai juga di kecamatan Sawang.
makan malam sama emak

     Aku lihat dari luar, nampak wajah-wajah berseri-seri di dalam mobil, menandakan mereka masih antusias untuk melanjutkan perjalanan. Entah apa kesan pertama mereka melihat daerah kecamatan Sawang yang jalannya bagus, dengan keramaian pusat kecamatan yang bergairah. Kesimpulanku yang ada dalam benak mereka waktu itu, kurang lebih begini “kok, bisa ya PM disini, kan ini jalannya udah bagus, bahkan rame”. Oke tunggu dulu, itu kesimpulan awal, hehe. Benar saja sopir avanza kemudian dengan penuh semangat menanyakan “mana Ari kampung kamu?” “aha, ini pertanyaan yang aku nantikan” batinku. “oke siap ya, sebentar lagi kita akan menempuh perjalanan yang sebenarnya, ya kira-kira 17 Km naik lagi ”, sahutku. Terlihat pasrah si sopir avanza, tapi apa boleh buat, inilah perjalanan sesungguhnya baru dimulai. Langsung saja kami teruskan perjalanan suci itu, dan sekarang tugasku adalah memandu mereka hingga selamat sampai tujuan, dengan kendaraan kebesaranku, yaitu Honda Prima buatan tahun 89 yang selalu setia menemaniku.
    Tak lama, sorotan lampu kendaraan kami selalu menerangi rumput tinggi yang menjadi pemandangan sepanjang perjalanan. Mungkin anak-anak SL kemudian melihatku sebagai aksi kocak penunggang motor yang memaksakan motor tuanya menaiki bukit licin nan terjal. Apalagi melihat aksiku mengusir ular di jalan, gak paham lagi, apa yang ada dalam pikiran mereka. Ah, gak papa, anggap aja perjalanan kali ini hiburan untuk anak-anak SL. Tapi aku cukup puas karena kemudian bisa menjawab sedikit unek-unek dalam benak para calon pemimpin Aceh masa depan ini, “mengapa PM ditempatkan disini?” ya biar mereka simpulkan sendiri. Tapi yang jelas anak SL bisa melihat sendiri bagaimana sepinya tanda-tanda modernitas di kampungku, salah satunya karena akses jalan yang kurang bagus. Biarlah mereka melihat sendiri kondisi ini. Sekitar 45 menit kemudian, secercah lampu putih dari salah satu teras rumah penduduk Araselo, sedikit memberi sinyal kehidupan, pertanda kami telah memasuki kampung. Selamat datang di tanah Araselo dengan segala keunikan dan permasalahannya.
Menuju sekolah
Bersiap-siap

         Pukul 21.00 WIB, kami tiba di kedai emak Ponah, simpang empat, lorong empat, Araselo. Inilah tempat yang selama hampir sebelas bulan ini aku berteduh dan pijakan awal untuk bergaul dengan masyarakat di sini. Tak lama Emak menyambut mereka dengan senyum lebar dan keramahannya, persis waktu pertama kalinya aku sampai di rumah ini. sambil keluar dari mobil,nampaknya mereka tak sabar mengomentari perjalanan malam ini dan aku sudah siap menjadi wadah untuk mencurahkan cerita mereka. Mereka berenam terlihat sangat mudah berinteraksi dengan warga disini, apalagi dengan anak-anak di sini yang antusias ingin melihat dan berkenalan dengan para tamu agung yang hadir malam itu. Tak lama kemudian, emak menghadirkan kopi dan hidangan hasil masakan kemaren sore. Mungkin mereka sudah mafhum kenapa masakan kemaren sore, hehe. Sesi selanjutnya, dilanjutkan dengan berbagai obrolan untuk membahas berbagai masalah di kampung, maklumlah mereka kan para calon pemimpin, jadi serius kalau bahas soal beginian, tapi kadang dicampur dengan bullyan cerdas sesama antar  SL, yah begitulah anak-anak SL, tapi seru.
Papi beraksi
   Minggu 6 Oktober 2013, sebuah kelas yang diklaim sebagai “Kelas Kreatif” akhirnya jadi juga diselanggarakan di SDN 25 Sawang, Aceh Utara. Dilihat dari namanya tentu ini bukan kelas biasa, yang murid selalu mendengar ceramah monoton dari gurunya, atau siswa harus membaca dari halaman 10 hingga 20 dalam waktu satu jam pelajaran, tentu tidak seperti demikian, ini adalah kelas yang pokoknya kreatif. Kelas ini diinisiasi dan dimotori oleh orang-orang kreatif yang tergabung dalam SL. Kebetulan yang datang ada Bang Hijrah, Fatthun, Nadya, dan ditambah teman mereka, ada Tomi, Bang Ari, dan Eja. SL ini bermuatan anak-anak muda hebat yang selama ini mewarnai Banda Aceh. Tak perlu diragukan lagi, peran mereka dalam bidang banyak hal, mulai dari entrepreunership hingga masalah pendidikan di Aceh, peran mereka dapat dilacak jejaknya. Senang sekali tentunya kesempatan emas ini di peroleh oleh anak Araselo yang memang butuh lebih banyak sentuhan seperti ini. 
    Minggu pagi, anak-anakku tak terbiasa dengan kondisi ini, biasa minggu waktu bermain atau membantu peutah pinang, sekarang ganti suasana, yaitu harus berangkat sekolah seperti hari-hari masuk biasa, bedanya ada wajah ganteng dan cantik dari kota nan jauh di sana yang sering disebut Kutaraja, datang mewarnai cerita minggu ini. tampak dalam raut wajah anak-anakku, semangat dan antusias. Berlari-lari, kejar-kejaran, dan bergurau menjadi pemandangan saat menuju sekolah. Sampai di bukit kecil, tempat sekolah kami dibangun, semua anakku sangat fokus mendengarkan Bang Hijrah dan kawan-kawan menerangkan cara membuat piyoh toys dari kertas kokoru. Awalnya cukup terkondisikan, semua anak-anak terlihat serius mendengarkan. Tak lama kemudian saat praktik pembuatan, suara-suara meminta kertas, lem, gunting datang dari berbagai arah, seperti saat para anggota DPR menghujani interupsi untuk ketua. Tambah mulai nampak kualahan anak-anak SL melayani anak-anakku. Semua dikerahkan untuk membantu, tapi tetap aja kualahan, ya begitulah jadi guru sehari bagi anak-anakku memang harus extra tenaga dan butuh banyak stok kesabaran, hehe. Dari sini minimal anak-anak SL dapat merasakan energy semangat dari anak-anakku yang ingin maju. Seperti yel yel mereka saat menyambut teman-teman SL ini, begini yelnya: “selamat datang abang, selamat datang kakak, selamat datang kami ucapkan 2X. inilah kami yang ingin maju bersama-sama, sambutlah kami yang ingin pintar bersama-sama. SDN 25 Sawang, pintar dan hebat. 
beradu action
Jayus, siapa yang gak kangen?
      Cepat rasanya kelas kreatif ini berlalu, tak terasa sudah lebih dua jam kami semua keasyikan membuat karya. Jepretan kamera tak henti-hentinya menyambut gaya anak-anakku yang memegang hasil karya mereka. Begitu juga dengan para abang dan kakak yang pandai bergaya di depan kamera, seolah tak mau kalah beradu dengan anak-anakku. Kini anak-anakku tampak puas karena hampir semua bisa membuat hasil karyanya. Kini mereka menjadi anak kreatif. Anak-anakku terlihat terkesima dan begitu terkesan bertemu orang-orang hebat ini. aku yakin, dalam benak anak-anakku akan tertanam kesan positif karena telah melihat orang aceh sendiri yang mengajari dan peduli terhadap mereka. Setidaknya memberikan gambaran mereka, tentang sisi lain kehidupan orang Aceh, yang hidup dibelahan bumi Aceh lainnya. Begitu juga dengan anak-anak SL, akan ada sesuatu referensi lain, tentang kehidupan orang Aceh di sisi tanah Aceh lainnya. Akhir dari pertemuan singkat tapi kaya makna ini disudahi dengan perjalanan pulang bersama menuju ke rumah masing-masing. Tentu anak-anakku selalu akan menantikan kehadiran kembali orang-orang hebat ini. Semoga saja orang-orang seperti ini, akan terus ada dan beranak pinak di bumi Nanggroe ini, amin.



   

Rabu, 02 Oktober 2013

Ini contoh kurang baik..hehe. tiga jam (pukul 02.00 WIB) menjelang deployment PM V ke penempatan masing-masing, baru ngrekam lagu parodi buat saat penempatan nanti, biar gak lupa..hehe dasar para deadliner!

Selasa, 01 Oktober 2013

HARI Pendidikan Daerah (Hardikda) ke 54 dimeriahkan oleh berbagai seremonial yang senyatanya bersifat insidental. Sesuai amanah yang disampaikan oleh Gubernur Zaini Abdullah, sesungguhnya masih ada pekerjaan rumah yang selalu mengikuti langkah kita. Langkah kita bersama membenahi mutu pendidikan Aceh.

Salah satunya adalah refleksi tentang kesenjangan peran pelaku pendidik formal dan non formal.  Segelintir masyarakat masih memandang bahwa pendidikan adalah peran dinas pendidikan, majelis pendidikan, UPTD, pengawas sekolah, kepala sekolah, dan guru saja. Sehingga saat ada terjadi kegagalan mencapai target pada ujian nasional beberapa waktu lalu, sekelompok aktor formal pendidik ini yang disalahkan. Memang hal ini wajar karena mereka adalah perpanjangan tangan negara yang mempunyai kewajiban konstitusional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Akan tetapi, senyatanya semua pihak mempunyai andil yang sama. Lebih adil kiranya jika “kue” peran pendidik ini kita rumuskan kembali.

Banyak teori yang menyebutkan bahwa lingkungan sangat berpengaruh dalam mencetak generasi muda. Pada bagian ini pendidik non formal patut mengisi perannya. Contoh yang umum tentang motivasi anak dalam belajar. Seorang anak tentu akan memiliki etos belajar yang bagus ketika lingkungan sekolah mendukung dan berbanding lurus dengan lingkungan keluarga yang juga mendukung. Keluarga yang kondusif, dengan orang tua yang selalu memperhatikan pola belajar anak dan memberikan stimulus-stimulus dalam bentuk perhatian dan kasih sayang. Keluarga menjadi katalisator kesuksesan anak.

Lingkungan pendidikan (baca : sekolah) tidak terlepas dari pengaruh  lingkungan sekitar. Sekolah tidak dapat diisolasi dari hiruk-pikuk masyarakatnya. Senyatanya sekolah adalah model sebuah masyarakat mini. Sekolah adalah tempat anak didik belajar tentang bagaimana hidup. Sekolah justru harus lebih “dikawinkan” lagi oleh lingkungan masyarakat, karena masyarakat juga merupakan alat pembelajaran yang hidup dan nyata bagi peserta didik.

Bagaimana momentum Hardikda kita arahkan untuk memperbaiki kondisi ini? Tentu dengan optimisme menata kembali keseimbangan peran masyarakat sebagai pendidik non formal dan lembaga pendidikan sebagai pendidik formal dalam kancah belajar mengajar. Bahasa populernya adalah menciptakan sebuah “ekosistem pendidikan”. Istilah ini diadopsi dari Richard Florida dalam The Rise of the Creative Class (2002) yang dikutip Yudi Latif dalam tulisan perspektifnya “Memuliakan Talenta” (2013). Ekosistem pendidikan menciptakan sebuah lingkungan kondusif yang semaksimal mungkin mendukung dan mendorong peserta didik untuk tumbuh dan berkembang. Ekosistem pendidikan ini bagaikan lingkungan tempat ikan hidup, yang tidak hanya didukung oleh adanya asupan makanan yang mencukupi. Lebih dari itu, ikan membutuhkan tingkat keasaman air yang terkontrol, kuantitas predator dan penyakit yang relatif rendah, serta yang terpenting adalah adanya daya dukung komponen lingkungan seperti adanya tumbuhan dan komponen alam lainnya sebagai tempat berlindung yang nyaman bagi ikan.

Ekosistem pendidikan dapat tercipta ketika ada kesadaran tingkat tinggi dari pihak masyarakat untuk berperan aktif mengawal pelaksanaan pendidikan. Masyarakat ikut terlibat dalam menciptakan suasana kondusif dan teladan bagi generasi yang sedang dicetak. Bayangkan ketika semua pihak berperan dalam mensukseskan pendidikan. Semua berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan perannya masing-masing. Segelintir anggota masyarakat yang mempunyai hak dan otoritas dalam mengontrol lingkungan dalam skala lebih luas misalnya, menciptakan kebijakan yang mendukung terciptanya suasana kondusif untuk anak didik. Contoh lainnya mahasiswa yang beruntung karena dianggap lebih terdidik, ikut terlibat aktif membimbing adik-adiknya di lingkungan “gampongnya” masing-masing. Bisa juga para bapak atau ibu yang duduk di lingkungan legislatif, yudikatif, dan eksekutif ikut berperan aktif dalam dunia pendidikan, minimal memperhatikan anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya yang masih duduk di bangku sekolah. Tentu semua akan terlihat indah dan harmonis ketika semua sinergis.

Aceh dalam konteks lokalitas atau local wisdom telah mempunyai modal untuk menciptakan ekosistem pendidikan. Contoh riilnya adalah Aceh mempunyai perpustakaan gampong yang jika digelorakan kembali akan menjadi salah satu wahana dalam menciptakan atmosfer pendidikan yang lebih bergairah. Aceh juga mempunyai balai-balai, warkop atau cafe sebagai ruang diskusi yang representatif dan memungkinkan dukungan dunia pendidikan dari para pihak pendidik non formal. Belum lagi keberadaan dayah yang sejak dahulu ikut membentuk generasi muda Aceh. Di pelosok-pelosok gampong Aceh juga mempunyai jam belajar yang padat, terutama untuk mengkaji ilmu agama. Ini berpotensi baik sebagai proteksi terhadap pengaruh-pengaruh budaya global yang kurang sesuai dengan keluhuran budaya lokal. Masih banyak kearifan lokal Aceh lainnya yang berpotensi besar sebagai embrio untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih sinergis antara satu pihak dengan yang lainnya.

Kita harus mulai memiliki pandangan tentang prioritas untuk menciptakan ekosistem pendidikan bagi generasi Aceh yang lebih baik. Baik pihak yang secara langsung diamanahi oleh undang-undang atau para pendidik non formal yang mempunyai kewajiban moral atas ini. Seperti yang selalu dikatakan oleh pendiri Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan bahwa “mendidik bukan hanya tugas guru semata, tetapi mendidik adalah tugas bagi orang-orang terdidik”. *opini ini dipublikasikan oleh Atjeh post
    Sekitar tahun 2001 yang lalu, ada perselisihan pendapat antara kedua orang tuaku. Kedua orang hebat ini mempunyai argument masing-masing untuk menentukan tempat yang nantinya menjadi sumurku untuk menimba ilmu. Maklum saja bagi sebuah keluarga yang baru pertama kalinya mempunyai anak yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMP, ini menjadi sesuatu yang harus benar-benar dipertimbangkan. Konon masalah ini tak berhenti di ruang sempit rumah tangga saja, kedua orang tuaku masing-masing mencari “koloni” dari luar rumah tangga, yang dianggap lebih pengalaman, mungkin untuk sekedar mencari bahan masukan atau tambahan argumentasi, biar lebih mantab. Ini artinya Ayah dan Ibuku sudah melibatkan pihak luar untuk memutuskan internal keluarganya, tentu ini akan menjadi tak mudah. terlebih ada keluarga besar yang ikut memberi masukan.
    Sebuah hal yang menarik di rumah kecil kami yang tentu sebagai latar belakang adanya perbedaan pendapat. Pertama latar belakang keluarga ayahku yang lebih didominasi oleh kalangan berpendidikan pesantren. Sehingga ayahku lebih memilih aku untuk meneruskan ke pesantren. Pertimbangan ini juga dilatari dengan adanya pengaruh lingkungan yang semakin kuat daripada orang tua sendiri untuk mendidik anaknya. Maklum saja kedua ayah dan ibu orang sibuk yang bekerja di kantor. Masih jelas di ingatan sejak kecil pembantu rumah tangga menjadi orang tua keduaku. Itulah sebabnya ayahku lebih berat untuk memasukan ke pesantren dari pada SMP  karena selain pendidikan pesantren yang ketat, pengaruh lingkungan cukup minim.
Bagaimana dengan ibuku? Jelas ibuku adalah orang berlatar pendidikan bukan pesantren. Konon tujuh saudara ibu semua disekolahkan di sekolah pemerintah hingga setara diploma, hasilnya jelas semua sekarang menjadi pegawai. Tentu waktu itu ibuku lebih memilih aku untuk melanjutkan ke jenjang SMP non-pesantren. Selain alasan berijazah juga karena bercermin dari keluarga ibuku semua anak-anaknya sekolah dipendidikan formal kota. Keluarga besar ibuku sangat mencerminkan bagaimana hasil pendidikan formal yang pluralistik dan sekularis. Dari sisi pergaulan, keluarga besar ibuku cukup luas, banyak teman dan jaringan itulah ciri keluarga besar dari ibuku. Mereka hingga kini mengisi berbagai profesi mulai dari dosen, dokter hingga pengusaha.  Dari sisi keragaman sebagai hasil pendidikan juga terlihat dari perbedaan kenyakinan dan agama yang mereka yakini. Keluarga ibuku terpecah dalam dua kenyakinan karena pergaulan dan keterbukaan mereka terhadap pengaruh selama dalam masa pendidikan.  
    Latar belakang kedua orang tuaku ini terlihat juga dalam perjalanannya mendidik anak-anaknya. Aku sangat beruntung karena keduannya memang sepakat untuk gotong royong saling mengisi. Waktu mahrib tiba, ayahku bersiap untuk menggembleng dasar-dasar ilmu agama, mulai dari membaca iqro’, sholat, dan bersuci setidaknya hingga aku lulus sekolah dasar. Sehabis sholat Isyak peran bergeser ke ibu, dia selalu membimbing belajar dan mengejarkan pekerjaan rumah hingga pukul sembilan malam.
    Lalu bagaimana hasil akhir dari dua perdebatan itu. tentu kemudian ada kompromi dalam perdebatan ini. nampaknya keduanya gak mau mengalah karena ini soal masa depan anaknya. Hingga suatu saat ada sebuah informasi datang ke telinga ayah. Bahwa ada pondok pesantren yang mengharuskan santrinya sekolah. Jelas kemudian ayahku langsung tertarik untuk mencari info lebih dalam soal sekolah ini. tak lama informasi yang terkumpul cukup banyak, kemudian terjadi dialog antara ayah dan ibu. Disitulah kemudian lahir sebuah kesepakatan bersama untuk menyekolahkanku dalam dua alam yaitu alam pondok pesantren dan alam sekolah formal atau yang dikenal dengan pesantren modern. Keputusan itu cepat, karena semua unsure keinginan telah terpenuhi dari masing-masing pihak. Unsure pesantren dan unsure sekolah formal yang terwadahi dalam satu tempat.
    Dari situlah kemudian aku mulai mengenal bagaimana kehidupan pesantren dan sekolah formal. Kehidupanku kemudian berubah tiga ratus delapan puluh derajat, karena harus menyelami kehidupan yang padat dan penuh pengalaman. Sekarangpun aku baru sadar bagaimana dahulu ayah dan ibu berbeda pendapat hingga berakhir pada sebuah kompromi yang cerdas untuk menyekolahkan aku di pesantren dan sekolah formal sekaligus. Dan tentu aku baru merasakan hasil yang lebih ketika menjalani kedua macam pendidikan ini. Semua tadi adalah hasil usaha keras kedua orang tuaku untuk menjadikan aku anak yang berguna. Terimakasih ayah ibu.