Jumat, 23 Agustus 2013


Polonia 3 November 2012, udara segar menyambut kedatangan kami, dan nampak di aspal bandara bekas kubangan air tanda Kota Medan baru saja mendapatkan berkah hujan. Suasana pagi yang masih sepi membuat udara kota masih segar dan belum terkontaminasi asap kendaraan. Setelah beres mengambil carier dan ransel, kami-pun bergegas menuju terminal bandara. Kebetulan disalah satu kios di bandara rumah makan padang sudah membukakan pintunya lebar-lebar, pertanda siap melayani pengunjung. Mungkin saat itulah pikiran kita sama yaitu, ingin segera mengisi perut yang memang sejak pukul 01.00 WIB dini hari perut belum optimal terisi.  
Makanan padang adalah makanan universal bagi kami. Artinya makanan padang menjadi pilihan utama, saat kita buta arah ketika memilih makanan. Kerap saat kita lapar dikota orang, kita tidak usah berfikir panjang soal kecocokan rasa atau kehalalan makanan, ya tentu saja karena masakan padang secara rasa dan kehalalan insyaAlloh terjamin.Tentu ini berlaku bagi kami yang awam masalah kuliner. Dugaan kami tidak terlampau jauh, dan memang masakan Padang hampir sama rasanya dimana-mana, yang membedakan hanyalah soal harga yang sesuai dengan konteks daerahnya.
Jam menunjukan pukul 08.30 waktu Medan. Kami-pun ber-tujuh (ditambah satu orang dari team operasional) seusai menyantap makanan, seperti halnya kawan-kawan PM lain yang sudah mulai memamerkan foto-foto mereka yang terpampang di facebook atau Twiter. kami-pun tak mau kalah untuk segera mencari space yang strategis untuk sekedar berfoto dan memamerannya ke hadapan publik pengguna media sosial. Supaya publik memahami arti foto kita, kita-pun mengambil latar bandara polonia, sehingga setidaknya foto kami banyak bercerita tentang posisi kami.
Setelah narsis di depan kamera, kami kembali didepan rumah makan. Seperti halnya kebanyakan kota-kota di Indonesia, kami-pun masih menyaksikan pemandangan yang cukup membuat kami miris. Tepat disamping kami, anak-anak yang kira-kira masih sekolah dasar harus bekerja menyemir sepatu dan sambil menikmati rokok. Pemandangan ini membuat kami berfikir bahwa, pada kondisi tertentu anak-anak Indonesia harus berjuang untuk hidup dan mengorbankan hak-hak mereka yaitu menikmati pendidikan dan kasih sayang. Tak lama kemudian, sekitar pukul 09.00, dua orang Medan membawa dua mobil menyapa kami. Kami-pun kemudian paham bahwa, team akomodasi sudah mempersiapkan segalanya, termasuk akomodasi kami menuju ke Aceh Utara. Kami-pun segera menuju mobil, meninggalkan pemandangan yang cukup umum tadi. 
Kota Medan menjadi awal perjalanan kami di Pulau Sumatra ini. Pulau yang kaya, dan mempunyai sejarah panjang mulai dari masa klasik kerajaan Sriwijaya dan Samudera Pasai, tempat Ibukota Indonesia saat darurat, dan menjadi tempat lahirnya beberapa tokoh-tokoh nasional seperti Tan Malaka dan tokoh ulama kharismatik masa Orde Baru yaitu HAMKA. bagi kami Sumatera adalah pulau istimewa. Terlebih kami akan menuju ke Bumi Serambi Mekah, tempat yang masyhur dengan berbagai lika-liku sejarahnya yang panjang, dan tempat yang bagi Bangsa Indonesia adalah tempat istimewa.
Saat perjalanan itulah, masing-masing pikiran kami melayang. Saya sendiri memikirkan dan menerka-nerka tentang kondisi masyarakat disana. Sesaat pikiran melayang ke hal lain, tentang kapasitas diri, mampukah merubah entitas perilaku ditengah-tengah kondisi masyarakat yang bisa saja diluar ekspektasi dan seterusnya pikiranku melayang. Sekarang merambah ke kondisi masyarakat di penempatan yang katanya pelosok itu. Cukup capek terus-menerus saya membanyangkan soal Aceh. Pikiran-pikiran yang kadang tak terkendalikan sempat membuat saya tak sempat istirahat selama perjalanan.
Masjid Tua di Sumatera Utara
Waktu Dhuhur-pun datang. Terasa lama sekali, kabarnya delapan jam waktu efektif menuju Lhoksuemawe, sebuah kota yang kabarnya berkembang karena kekayaan buminya. Mobil berhenti di sebuah masjid tua yang membuat jiwa arkeolog saya terpantik lagi. Masjid yang indah dengan arsitektur khas Aceh, sempat membuat kami mengira bahwa kami telah sampai Aceh. Masjid di sebuah daerah di Sumatera Utara itu adalah masjid tua yang dibangun oleh salah satu tokoh ulama didaerah ini. Sayang sekali saya tidak sempat mengabadikan soal nama dan latar belakang sejarahnnya karena waktu tidak banyak. Akan tetapi saya sempat memotret bagian-bagian menarik dari bangunan yang penuh ornamen yang indah itu.
Deretan Tulisan Asmaul Husna di Aceh Timur
Sekitar 3 jam kemudian, kami sampailah di Provinsi Aceh, tepatnya di Kabupaten Aceh Timiang. Kesan pertama saya melihat aceh adalah kehidupan keberagamaan masyarakatnnya. Masjid dan balai gampong hampir disepanjang perjalanan terlihat cukup rame. Masjid dan balai menjadi jatung aktivitas masyarakat dalam sebuah gampong atau dusun. Tempat ini menjadi  tempat masyarakat berhubungan dengan Tuhan dan antar sesam manusia, selain itu majlis ilmu yang sering disebut munasyah dan pengajian anak-anak setiap hari diselenggarakan disini. Disepanjang pinggiran jalan juga kami lihat papan-papan bertuliskan Asma’ul khusna yang berjumlah 99 nama indah Alloh. Mungkin nama-nama ini dipaparkan agar masyarakat selalu mengingat nama Alloh dan selalu menghafalnya.
Dua jam kemudian tibalah kami disebuah kota yang cukup rame, yaitu kota Lhouksuemawe. Masjid Islamic Center yang megah menyambut kami dijantung kota itu. Kota kedua terbesar di Provinsi Aceh ini adalah tempatnya pabrik pupuk terbesar di Asia tenggara Iskandar Muda yang dahulu sering muncul didalam pelajaran sekolah dasar. Terlihat disempanjang jalan adalah warung kopi, Aceh adalah surganya warung kopi atau cafe. Sebelum cafe-cafe ala kota menjamur, Aceh telah mengenal warung kopi, tempat berkumpul dan nongkrong bagi semua kalangan dan umur. Kami-pun tak mau melewatkan kesempatan ini, setelah menaruh barang-barang diwisma, sebuah warung kopi yang isunya elite di Lhouksuemawe kami jajal. Dhapu kana kupi, yang kurang lebih artinya “ada kopi di dapur” adalah nama cafe ini. Cafe ini terletak dipinggir jalan utama dan tepat di depan Islamic Center. Cafe ini dilengkapi beberapa LCD dan proyektor tempat masyarakat menonton pertandingan sepak bola. Dan terlihat didinding terpampang foto-foto yang saya tidak tau siapa itu dan lambang Gerakan Pemuda Pancasila juga dilukiskan ditembok itu.

Suasana Cafe di Lhokseumawe

Cerita hari pertama di Aceh ini diakhiri di cafe ini. Dan akhirnya memutuskan bahwa cafe ini menjadi markas sementara kami saat berkumpul di Lhouksuemawe.

Kamis, 22 Agustus 2013


Wanita Nias sedang berbondong pergi ke Gereja
Gender adalah segala sesuatu yang diasosiasikan dengan jenis kelamin seseorang, termasuk juga peran, tingkah laku, preferensi, dan atribut lainnya yang menerangkan kelaki-lakian atau kewanitaan di budaya tertentu (Baron&Byrne, 1979). Pada beberapa kepentingan, norma sosial mengacu pada norma tradisional dan perilaku yang sesuai dengan jenis kelaminnya diharapkan oleh masyarakat, dimana laki-laki lebih diharapkan lebih kuat, dominant, asertif, sementara perempuan seharusnya mempunyai sifat merawat, sensitif, dan ekspresif. Jika situasinya sesuai dan nyaman, maka akan sangat memuaskan untuk mengikuti dan bertingkah laku sesuai norma sosial tersebut, namun jika tidak sesuai, maka tingkah laku dapat disesuaikan dengan kondisi (Wood et al., 1997 dalam Baron&Byrne, 1979). Pengertian Gender dari kamus John Echol adalah perbedaan yang tampak pada laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Pembahasan Gender menurut Mufidah secara normative pada:
1. Marginalisasi Perempuan
Anggapan bahwa perempuan dalam masyarakat konvensional kerap menjadi obyek penindasan dan terkalahkan dalam hal apapun termasuk peran dalam keluarga.
2. Penempatan perempuan pada subordinat
Anggapan wanita hanya sebagai pelengkap kehidupan kaum laki-laki dalam istilah jawa wanita sebagai konco wingking.
3. Stereotype Perempuan
Pelabelan atau sterootype perempuan dalam kontruksi sosial masyakat tertentu menjadi image wanita menjadi buruk. Dalam positivism yang diletakan oleh Hegel yang membuat stereotype aktif-pasiv, ia bersikukuh bahwa di dunia ini ada obyek aktif dan pasif, laki-laki adalah aktif sedangkan wanita adalah pasif.
4. Kekerasan(Violence)
Wanita dibagian wilayah dunia selalu dikaitkan dengan obyek kekerasan, karena secara kodrati adalah makhluk lemah yang harus dilindungi.
5. Beban Kerja yang tidak Proposional.
Anggapan wanita hanya sebagai pendamping dan pelengkap menjadikan wanita kerap dijadikan obyek eksploitasi, terutama didalam lapangan pekerjaan.
Pemahaman dan kontruksi pikiran yang menjadi dasar para kaum feminis kerap menuntut ulang dalam setiap metode penelitian sosial. Penelitian sosial harus mempertimbangkan peran wanita dan sadar akan pengaruh wanita, sehingga penelitian dinilai akan lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Begitu juga apa yang telah mempengaruhi para peneliti dari kalangan Arkeolog, Arkeologi harus mempertimbangkan peran kaum wanita masa lalu dalam dengan melihat kemungkinan-kemungkinan yang mucul dalam obyek kajiannya.
Penerapan dalam Ilmu Arkeologi.
Banyak penelitian dalam Arkeologi yang menggunakan pendekatan Gender, penelitian-penelitian ini kebanyakan berangkat dari asumsi marginalisasi peran wanita dalam kasus-kasus penafsiran obyek kajian arkeologi. Seperti yang dilakukan oleh Karlotte Brysting Damm ditulis dijurnal yang berjudul Time, Gender, and Produktion: A critical Evalution of Archaelogical Time Concepts, yang mencoba mempertanyakan kembali kefalidan penafsiran kaitannya konsep waktu dalam Arkeologi yang mencoba mengevaluasi pandangan atau konsep waktu yang dipahami oleh peneliti barat yang menurutnya kurang tepat saat digunakan dalam menafsirkan konstruksi kebudayaan masyarakat masa lampau. Damm membandingkan dengan konsep waktu menurut orang Papua yang memiliki perbedaan dengan konsep barat dan kemudian dikaitkan dengan produktivitas dan peran kaum wanita dalam membuat gerabah
dengan melihat akumulasi kereweng dalam sebuah situs. Selain itu dalam penelitian Irigaray, dan Cixous, 1985 yang memunculkan istilah Phallocentrism dalam setiap penafsiran yang meniadakan peran wanita dalam setiap sejarah peradaban, mencoba berangkat dari kritik penelitian yang telah lalu dan secara kualitatif kembali mengguakan pendekatan Gender, atau penelitian Mary Baker dalam jurnal Gender: Enabling Perspektive or Politically Correct Term? An Analysis of How Gender and Material Culture are Viemed by 1990s Academia, yang berpendapat bahwa harus ada sebuah pemikiran yang melawan dominasi akibat dikotomi dalam setiap penelitian arkeologi, dan masih banyak peneliti-peneliti yang lain yang mengguakan pendekatan ini, termasuk penelitian di Indonesia terutama akhir-akhir ini yang banyak mengungkap peran wanita masa klasik.
Berangkat dari kritik terhadap asumsi-asumsi terhadap kefalidan penelitian arkeolog,dan sampai pada proses penafsiran data yang sangat melihat atau mempertimbangkan peran wanita, seperti contohnya melihat kembali peran wanita dalam masyarakat prasejarah yang selalu diasumsikan sebagai pelaku food Gathering bukan hunter atau pemburu, sehingga anggapan ini menimbulkan kesan peran wanita yang tidak ada dalam konstruksi social, marginalisasi dan lain sebagainya, akan mempengaruhi pada sebuah kesimpulan akhir dalam penelitian.
Kritik Analisis Gender
Sebuah Kritik dari penerapan berbagai penelitian Gender didunia Arkeologi yang dilakukan Alison Wylie dapat diambil kesimpulan bahwa penelitian arkeologi menggunakan pendekatan ini diawali oleh kritikan dan ketidak kepercayaan akan penafsiran yang dianggap menghilangkan peran-peran wanita. Bahkan menurutnya dalam stadium tertentu akhir-akhir ini penelitian berbasis Gender telah terintervensi oleh kepentingan politik yang cenderung pragmatis. Alasanya adalah seringkali penelitian ini tidak obyektif dan penuh kepentingan, selain itu apa yang disuarakan tidak atau sulit dalam pengaplikasianya di lapangan, melanggaran Norma-norma penelitian, dan selain itu dalam penerapanya sering kali melupakan konteks penelitian yang digeneralkan dalam sebuah teori yang mengikuti faham feminish . Kemudian dia mengutip pendapat yang ada dalam jurnal metodelogi dan teori arkeologi bahwa penelitian arkeologi dengan gender seringkali tidak sesuai dengan teori gender dalam disiplin ilmu gender. Selanjutnya dia mengusulkan bahwa Gender dapat berkontribusi dalam setiap penelitian Arkeologi dengan ketentuan: 1. kejujuran peneliti dalam menafsirkan penemuan Arkeology, 2. Penerapan teori gender harus sesuai dengan disiplin ilmu Gender atau Gender yang Normative (yaitu semata untuk mengungkap marjinalisasi peran wanita dalam obyek penelitian).3. Harus lebih melihat konteks.
Kesimpulan
Meskipun dalam perannya pendekat Gender dalam dunia Arkeologi menuai berbagai kritikan dan atau dukungan, penelitian Gender dalam arkeologi akan lebih obyektif jika tanpa adanya intervensi, dan tentu akan tetap bermanfaat untuk menyumbangkan data dalam disiplin ilmu arkeologi.
Daftar Pustaka:
Mufida, 2003: Paradigma Gender, Banyu Media Publishing. Jawa Timur
Mary Baker: Enabling Perspektive or Politically Correct Term? An Analysis of How Gender and Material Culture are Viemed by 1990s Academia. Jurnal Gender.
Karlotte Brysting Damm: Time, Gender, and Produktion: A critical Evalution of Archaelogical Time Concepts. Tanpa tahun.
Alison Wylie, 2007: Doing Archaelogy as s Feminist: Introduction. Jurnal arkeology Methode and Theory.


Akhirnya hari yang ditunggu-tunggupun datang, tanggal 3 November 2012 menjadi hari yang istimewa. Hari itulah semua perasaan mulai dari bahagia, sedih, takut, ragu dan penasaran bercampur aduk menjadi satu dan sempat mewarnai suasana pelepasan para Pengajar Muda. Pukul 04.30 WIB, hampir semua dari team Indonesia Mengajar, Pengajar Muda angkatan V, dan sebagian wali yang mengantar berkumpul di depan pintu AI bandara Sukarno-Hatta untuk mengikuti prosesi pelepasan.
Pelukan perpisahan
Lagu kebangsaan-pun dinyayikan dengan penuh hikmat dan khusuk. Terlihat semua yang hadir meresapi suasana yang terbangun pagi itu. Mungkin semua yang hadir merasakan hal yang sama terutama bagi para Pengajar Muda, saat lagu kebangsaan dialunkan serasa bagaikan genderang perang dan kami menyadari bahwa perjuangan ini benar-benar segera akan dimulai dan ini bukan mimpi atau bukan simulasi seperti saat pelatihan intensif. Perasaan awal yang masih ragu dan merasa belum siap seketika menghilang dan memang harus segera disingkirkan, karena waktu sudah tidak memberikan ruang dan peluang untuk ragu.
Lagu Indonesia Raya telah dinyayikan, tidak lama kemudian kalimat-kalimat penyemangat mulai masuk kedalam benak kami. Bapak Anis Baswedan dengan ke-khassannya beliau menyampaikan pidato singkatnya. Pidato yang penuh makna bagi kami dan menambah kuat hati kami yang tadinya sempat layu. Beliau memang pernah menyampaikan beberapa point yang sama, akan tetapi karena konteksnya berbeda, maka kami-pun pada hari itu lebih mampu mersesapi secara mendalam apa yang beliau sampaikan.

Isak tangis para PM V
Pidato berakhir dan kini berganti perasaan sedih mulai muncul, perasaan ini lebih pada romantisme hari-hari yang telah berlalu yang penuh kebersamaan diantara kami 50 orang pengajar muda dan team IM yang selama dua bulan merajut tali kebersamaan. Nyaris 24 jam kami bersama, canda tawa bahagia, sedih, takut, ragu, dan kecewa kami alami bersama-sama. Sehingga ikatan kami telah kuat, hati kami telah menyatu bersama dengan sikap optimisme kami. Saat pelepasan itulah, ibarat kebersamaan itu akan diceraikan secara paksa dan seketika air mata tak dapat ditahan lagi. Tapi inilah tugas, bagaimanapun tugas ini yang telah mempertemukan kita, dan kami yakin 14 bulan mendatang kami akan dipertemukan kembali dengan masing-masing cerita yang berbeda dan saat itulah kami telah menjadi pribadi-pribadi yang lebih matang, karena proses penempaan yang panjang.
Akhirnya satu demi satu team meninggalkan terminal, naik ke udara menuju tanah tempat masing-masing berjuang. Hanya doa dan bekal selama pelatihanlah yang akan selalu menemani kami, dan hingga saat nanti tiba waktunya kami akan dilepas secara individu.
Selamat berjuang kawan....

Sabtu, 06 Juli 2013

Dua hari pertama di Kota Lhokseumawe menjadi hari-hari yang panjang dan penting. Menurut informasi dari para PM sebelumnya yang lebih dahulu bertugas disini, mereka telah membangun jaringan dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak baik swasta ataupun pemerintah untuk mendukung suksesnya program-program mereka. Dalam dua hari inilah kita ingin menyambung kembali ikatan kerjasama yang dulu sempat terbangun, tentu dengan tujuan positif yaitu untuk bersama-sama mengajak bergotong-royong bergerak untuk pendidikan.

Aceh Utara adalah kota istimewa karena di sinilah banyak pemuda mempunyai semangat untuk bergerak dan memilih terlibat dalam menyelesaikan permasalahan dunia pendidikan. Kenyataan ini jauh dari pandangan awal saya. Dahulu saya berfikiran bahwa Aceh utara dan Lhokseumawe hanyalah daerah yang berkembang karena adanya sejumlah industri raksasa transnasional maupun lokal sebut saja Exxon mobile, PT ARUN, dan Pupuk Iskandar Muda. Selain itu, kota ini sempat “mati” karena menjadi Daerah Operasional Militer atau DOM. Seperti halnya dikisahankan oleh orang-orang di luar sana tentang kondisi Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe yang masih banyak konflik, akan tetapi kini pandangan saya mulai berubah setelah melihat sendiri Aceh adalah tempatnya para pemuda yang mempunyai gairah untuk berbuat banyak.

Pernyataan saya ini tidak berlebihan, karena terbukti saya menyaksikan banyak hal yang telah diperbuat oleh sejumlah remaja ini. Mereka adalah pemuda-pemuda yang mengisi kekosongan yang tengah dihadapi saat ini, karena minimnya turun tangan. Mereka diantaranya adalah Aceh Menyala, Tanda Seru, Gerakan Pengajar Perubahan, Sekolah Demokrasi, Akademi berbagi Lhokseumawe dan Atjeh Analysis Club. Semua memang bergerak dalam koridor masing-masing, akan tetapi menuju satu impian yaitu mendambakan Aceh yang maju melalui pendidikan dan peningkatan SDM.

Beberapa perhimpunan anak-anak muda ini dapat menjadi cerminan atas nilai gotong royong. Sedikit mengisahkan mereka, yang pertama adalah Aceh Menyala. Gerakan yang dahulu diinisiasi oleh para PM angkatan dua. Awalnya mereka adalah anak-anak Aceh Utara dari beberapa universitas di Lhokseumawe. Karena dorongan dan difasilitasi para PM, mereka bisa berkumpul dan membentuk sebuah perkumpulan yang kemudian disebut-sebut sebagai gerakan literasi Indonesia Mengajar. Tentang bagaimana proses perkumpulan mereka, saya menyakini bahwa ada sebuah kesamaan frequensi diantara mereka. Tentu ini berbicara masalah kesamaan semangat dan kesepemahaman, sehingga mempermudah proses awal hingga akhirnya terbentuk sebuah ikatan. Aceh Menyala ini istimewa, karena perkumpulan ini sempat pingsan pasca ditinggal oleh PM, karena kondisi keamanan saat itu yang memaksa para PM pindah lokasi. Akan tetapi karena semangat para personelnya, mereka kemudian mampu sadar dari kepingsanan dan sempat berusaha merangkak untuk maju. Kini Aceh Menyala kembali ternyalakan dan sedikit-demi sedikit menuju mulai mengembangkan program-program mereka.

Cerita selanjutnya adalah tentang Komunitas Tanda Seru. Komunitas ini seperti lembaga training lainnya. Komunitas ini profit oriented, mereka banyak mentraining sejumlah kariawan, guru, pelajar dan lainnnya. Perbedaan dengan komunitas lainnya adalah mereka mempunyai sayap gerakan yang mereka beri nama Geraka Pengajar Perubahan atau GPP. Mereka ini dipelopori oleh beberapa orang pemuda yang peduli terhadap kualitas pendidikan di Aceh Utara.  GPP cukup agresif, mereka pergi ke tempat-tempat terpencil untuk mencari guru yang berprestasi dan mempublikasikannya untuk tujuan positif, selain itu mereka konsen pada masalah peningkatan SDM guru yang bermutu melalui training.

Sambung ke Sekolah Demokrasi, dibawah lembaga Sepakat yang merekrut sejumlah pemuda Aceh untuk berfikir tentang masalah-masalah sosial dan politik. Sekolah ini merupakan bantuan dari salah satu lembaga di Belanda pasca konflik dan bencana, kemudian jadilah sekolah demokrasi. Kerja mereka awalnya adalah semacam peningkatan kesadaran dan kemampuan analitis peserta training, dengan pendekatan diskusi, belajar, dan menulis. Kebanyakan peserta training selama setahun itu adalah dari para penggiat organisasi kemahasiswaan dan umum seperti HMI, LDK, partai politik, NGO dan lain sebagainya yang ada di sekitar Lhokseumawe.

Akademi Berbagi Lhokseumawe atau Akber. Sebuah perkumpulan tempat berbagi. Akber menjadi semacam ruang dua pihak antara pembagi dan para penerima. Para pembagi dengan suka rela mengutarakan idea atau keahliannya dalam berbagai bidang untuk ditularkan. Sedangkan pihak penerima, mereka haus akan pengetahuan dan sukarela untuk mau mendengarkan orang lain berbicara. Dari sinilah muncul saling menghargai untuk mendengar dan didengar antara kedua belah pihak. Sebuah komitmen yang dipegang bersama adalah menjauhkan dari pembahasan yang berbau politik. Dari sinilah akber menjadi ruang bebas kepentingan dan tak mengenal sekat golongan. Ruang Akber juga menyatukan semua pihak untuk mempunyai satu semangat saling berbagi dan menghargai.

Terakhir adalah Atjeh Analysis Club, yaitu sebuah kumpulan yang mendiskusikan berbagai permasalahan mulai dari politik, media, ekonomi dan lain-lainnya yang hangat diperbincangkan. Kumpulan ini menghadirkan para analysis dan ahli untuk membedah sebuah topic dan kemudian didiskusikan.

Semua kumpulan yang saya temui di Lhokseumawe dan Aceh Utara ini, saya sebut mereka sebagai “Para Pengisi Kekosongan”. Dari kumpulan-kumpulan inilah suatu saat nanti akan lahir para generasi Aceh yang lebih baik. Para pengisi kekosongan inilah harapannya menjadi benteng pertahanan bagi kemajuan peradaban bumi Nanggroe pasca dilanda konflik dan bencana. Amin..

Senin, 01 Juli 2013



Masjid dan Balai kampung

Pengajian anak-anak
Latihan Meudzikir
Ketika malam datang, Araselo menjelma menjadi sebuah dunia yang berbeda. Denyut  kehidupan seketika berubah, pusat peradaban bergeser ke masjid dan balai pengajian. Suara-suara indah lantunan qalam Alloh meramaikan suasana gelapnya malam. Lampu-lampu penerangan satu per satu memberikan warna berbeda di kampung ini. itulah Araselo malam. Sebuah masjid sederhana berdinding kayu dan berlantai semen menjadi kebanggaan kami semua disini. Babul izza, demikian kami sebut masjid sederhana ini. masjid ini mempunyai satu tengku imum dan tengku bilal. Keduanya bekerjasama membangun kehidupan Islami di sini.  Selain masjid, kami juga memimiliki tiga balai pengajian sederhana untuk kegiatan belajar agama.

        Jika sehabis sholat mahrib usai dilaksanakan, remaja dan anak-anak langsung memenuhi balai pengajian. Para remaja memenuhi balai paling besar untuk mempelajari beberapa kitab diantaranya sejarah Nabi Muhammad, tajwid, dan kitab fiqh. Semua kitab ini berhuruf arab akan tetapi berbahasa melayu. Dalam prosesnya tengku imum mendampinginya.

        Sedangkan balai satunya yang lebih kecil diisi anak-anak yang masih belajar membaca iqrak dan Al-quran. Metode belajar yang dipakai biasanya menggunakan system eja per huruf . contohnya untuk membaca huruf alif berharokat fatah. Dieja menjadi “alif tebareh a”, atau jika berharokat dhomah dibaca  “alif cikok bareh u”.  dengan metode ini anak memungkinkan paham nama huruf dan sebab-akibat suatu huruf dibaca sesuai dengan harokat dan  kondisi pertemuan dengan huruf lainnya. Kegiatan pengajian pada malam hari biasanya diakhiri dengan sholat isyak pada pukul 21.00

       Kegiatan lainnya pada malam-malam tertentu di masjid adalah meudzikir. Kegiatan ini dilakukan oleh sekelompok laki-laki yang membentuk formasi duduk melingkar. Kemudian salah seorang pemimpin dzikir duduk sebagai center . biasanya dalam setiap dzikir ada nada-nada tertentu dan gerakan badan yang dilakukan kompak oleh seluruh peserta dzikir. Kegiatan ini biasa dilakukan untuk persiapan maulud Nabi Muhammad SAW.