Rabu, 02 Oktober 2013

Ini contoh kurang baik..hehe. tiga jam (pukul 02.00 WIB) menjelang deployment PM V ke penempatan masing-masing, baru ngrekam lagu parodi buat saat penempatan nanti, biar gak lupa..hehe dasar para deadliner!

Selasa, 01 Oktober 2013

HARI Pendidikan Daerah (Hardikda) ke 54 dimeriahkan oleh berbagai seremonial yang senyatanya bersifat insidental. Sesuai amanah yang disampaikan oleh Gubernur Zaini Abdullah, sesungguhnya masih ada pekerjaan rumah yang selalu mengikuti langkah kita. Langkah kita bersama membenahi mutu pendidikan Aceh.

Salah satunya adalah refleksi tentang kesenjangan peran pelaku pendidik formal dan non formal.  Segelintir masyarakat masih memandang bahwa pendidikan adalah peran dinas pendidikan, majelis pendidikan, UPTD, pengawas sekolah, kepala sekolah, dan guru saja. Sehingga saat ada terjadi kegagalan mencapai target pada ujian nasional beberapa waktu lalu, sekelompok aktor formal pendidik ini yang disalahkan. Memang hal ini wajar karena mereka adalah perpanjangan tangan negara yang mempunyai kewajiban konstitusional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Akan tetapi, senyatanya semua pihak mempunyai andil yang sama. Lebih adil kiranya jika “kue” peran pendidik ini kita rumuskan kembali.

Banyak teori yang menyebutkan bahwa lingkungan sangat berpengaruh dalam mencetak generasi muda. Pada bagian ini pendidik non formal patut mengisi perannya. Contoh yang umum tentang motivasi anak dalam belajar. Seorang anak tentu akan memiliki etos belajar yang bagus ketika lingkungan sekolah mendukung dan berbanding lurus dengan lingkungan keluarga yang juga mendukung. Keluarga yang kondusif, dengan orang tua yang selalu memperhatikan pola belajar anak dan memberikan stimulus-stimulus dalam bentuk perhatian dan kasih sayang. Keluarga menjadi katalisator kesuksesan anak.

Lingkungan pendidikan (baca : sekolah) tidak terlepas dari pengaruh  lingkungan sekitar. Sekolah tidak dapat diisolasi dari hiruk-pikuk masyarakatnya. Senyatanya sekolah adalah model sebuah masyarakat mini. Sekolah adalah tempat anak didik belajar tentang bagaimana hidup. Sekolah justru harus lebih “dikawinkan” lagi oleh lingkungan masyarakat, karena masyarakat juga merupakan alat pembelajaran yang hidup dan nyata bagi peserta didik.

Bagaimana momentum Hardikda kita arahkan untuk memperbaiki kondisi ini? Tentu dengan optimisme menata kembali keseimbangan peran masyarakat sebagai pendidik non formal dan lembaga pendidikan sebagai pendidik formal dalam kancah belajar mengajar. Bahasa populernya adalah menciptakan sebuah “ekosistem pendidikan”. Istilah ini diadopsi dari Richard Florida dalam The Rise of the Creative Class (2002) yang dikutip Yudi Latif dalam tulisan perspektifnya “Memuliakan Talenta” (2013). Ekosistem pendidikan menciptakan sebuah lingkungan kondusif yang semaksimal mungkin mendukung dan mendorong peserta didik untuk tumbuh dan berkembang. Ekosistem pendidikan ini bagaikan lingkungan tempat ikan hidup, yang tidak hanya didukung oleh adanya asupan makanan yang mencukupi. Lebih dari itu, ikan membutuhkan tingkat keasaman air yang terkontrol, kuantitas predator dan penyakit yang relatif rendah, serta yang terpenting adalah adanya daya dukung komponen lingkungan seperti adanya tumbuhan dan komponen alam lainnya sebagai tempat berlindung yang nyaman bagi ikan.

Ekosistem pendidikan dapat tercipta ketika ada kesadaran tingkat tinggi dari pihak masyarakat untuk berperan aktif mengawal pelaksanaan pendidikan. Masyarakat ikut terlibat dalam menciptakan suasana kondusif dan teladan bagi generasi yang sedang dicetak. Bayangkan ketika semua pihak berperan dalam mensukseskan pendidikan. Semua berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan perannya masing-masing. Segelintir anggota masyarakat yang mempunyai hak dan otoritas dalam mengontrol lingkungan dalam skala lebih luas misalnya, menciptakan kebijakan yang mendukung terciptanya suasana kondusif untuk anak didik. Contoh lainnya mahasiswa yang beruntung karena dianggap lebih terdidik, ikut terlibat aktif membimbing adik-adiknya di lingkungan “gampongnya” masing-masing. Bisa juga para bapak atau ibu yang duduk di lingkungan legislatif, yudikatif, dan eksekutif ikut berperan aktif dalam dunia pendidikan, minimal memperhatikan anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya yang masih duduk di bangku sekolah. Tentu semua akan terlihat indah dan harmonis ketika semua sinergis.

Aceh dalam konteks lokalitas atau local wisdom telah mempunyai modal untuk menciptakan ekosistem pendidikan. Contoh riilnya adalah Aceh mempunyai perpustakaan gampong yang jika digelorakan kembali akan menjadi salah satu wahana dalam menciptakan atmosfer pendidikan yang lebih bergairah. Aceh juga mempunyai balai-balai, warkop atau cafe sebagai ruang diskusi yang representatif dan memungkinkan dukungan dunia pendidikan dari para pihak pendidik non formal. Belum lagi keberadaan dayah yang sejak dahulu ikut membentuk generasi muda Aceh. Di pelosok-pelosok gampong Aceh juga mempunyai jam belajar yang padat, terutama untuk mengkaji ilmu agama. Ini berpotensi baik sebagai proteksi terhadap pengaruh-pengaruh budaya global yang kurang sesuai dengan keluhuran budaya lokal. Masih banyak kearifan lokal Aceh lainnya yang berpotensi besar sebagai embrio untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih sinergis antara satu pihak dengan yang lainnya.

Kita harus mulai memiliki pandangan tentang prioritas untuk menciptakan ekosistem pendidikan bagi generasi Aceh yang lebih baik. Baik pihak yang secara langsung diamanahi oleh undang-undang atau para pendidik non formal yang mempunyai kewajiban moral atas ini. Seperti yang selalu dikatakan oleh pendiri Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan bahwa “mendidik bukan hanya tugas guru semata, tetapi mendidik adalah tugas bagi orang-orang terdidik”. *opini ini dipublikasikan oleh Atjeh post
    Sekitar tahun 2001 yang lalu, ada perselisihan pendapat antara kedua orang tuaku. Kedua orang hebat ini mempunyai argument masing-masing untuk menentukan tempat yang nantinya menjadi sumurku untuk menimba ilmu. Maklum saja bagi sebuah keluarga yang baru pertama kalinya mempunyai anak yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMP, ini menjadi sesuatu yang harus benar-benar dipertimbangkan. Konon masalah ini tak berhenti di ruang sempit rumah tangga saja, kedua orang tuaku masing-masing mencari “koloni” dari luar rumah tangga, yang dianggap lebih pengalaman, mungkin untuk sekedar mencari bahan masukan atau tambahan argumentasi, biar lebih mantab. Ini artinya Ayah dan Ibuku sudah melibatkan pihak luar untuk memutuskan internal keluarganya, tentu ini akan menjadi tak mudah. terlebih ada keluarga besar yang ikut memberi masukan.
    Sebuah hal yang menarik di rumah kecil kami yang tentu sebagai latar belakang adanya perbedaan pendapat. Pertama latar belakang keluarga ayahku yang lebih didominasi oleh kalangan berpendidikan pesantren. Sehingga ayahku lebih memilih aku untuk meneruskan ke pesantren. Pertimbangan ini juga dilatari dengan adanya pengaruh lingkungan yang semakin kuat daripada orang tua sendiri untuk mendidik anaknya. Maklum saja kedua ayah dan ibu orang sibuk yang bekerja di kantor. Masih jelas di ingatan sejak kecil pembantu rumah tangga menjadi orang tua keduaku. Itulah sebabnya ayahku lebih berat untuk memasukan ke pesantren dari pada SMP  karena selain pendidikan pesantren yang ketat, pengaruh lingkungan cukup minim.
Bagaimana dengan ibuku? Jelas ibuku adalah orang berlatar pendidikan bukan pesantren. Konon tujuh saudara ibu semua disekolahkan di sekolah pemerintah hingga setara diploma, hasilnya jelas semua sekarang menjadi pegawai. Tentu waktu itu ibuku lebih memilih aku untuk melanjutkan ke jenjang SMP non-pesantren. Selain alasan berijazah juga karena bercermin dari keluarga ibuku semua anak-anaknya sekolah dipendidikan formal kota. Keluarga besar ibuku sangat mencerminkan bagaimana hasil pendidikan formal yang pluralistik dan sekularis. Dari sisi pergaulan, keluarga besar ibuku cukup luas, banyak teman dan jaringan itulah ciri keluarga besar dari ibuku. Mereka hingga kini mengisi berbagai profesi mulai dari dosen, dokter hingga pengusaha.  Dari sisi keragaman sebagai hasil pendidikan juga terlihat dari perbedaan kenyakinan dan agama yang mereka yakini. Keluarga ibuku terpecah dalam dua kenyakinan karena pergaulan dan keterbukaan mereka terhadap pengaruh selama dalam masa pendidikan.  
    Latar belakang kedua orang tuaku ini terlihat juga dalam perjalanannya mendidik anak-anaknya. Aku sangat beruntung karena keduannya memang sepakat untuk gotong royong saling mengisi. Waktu mahrib tiba, ayahku bersiap untuk menggembleng dasar-dasar ilmu agama, mulai dari membaca iqro’, sholat, dan bersuci setidaknya hingga aku lulus sekolah dasar. Sehabis sholat Isyak peran bergeser ke ibu, dia selalu membimbing belajar dan mengejarkan pekerjaan rumah hingga pukul sembilan malam.
    Lalu bagaimana hasil akhir dari dua perdebatan itu. tentu kemudian ada kompromi dalam perdebatan ini. nampaknya keduanya gak mau mengalah karena ini soal masa depan anaknya. Hingga suatu saat ada sebuah informasi datang ke telinga ayah. Bahwa ada pondok pesantren yang mengharuskan santrinya sekolah. Jelas kemudian ayahku langsung tertarik untuk mencari info lebih dalam soal sekolah ini. tak lama informasi yang terkumpul cukup banyak, kemudian terjadi dialog antara ayah dan ibu. Disitulah kemudian lahir sebuah kesepakatan bersama untuk menyekolahkanku dalam dua alam yaitu alam pondok pesantren dan alam sekolah formal atau yang dikenal dengan pesantren modern. Keputusan itu cepat, karena semua unsure keinginan telah terpenuhi dari masing-masing pihak. Unsure pesantren dan unsure sekolah formal yang terwadahi dalam satu tempat.
    Dari situlah kemudian aku mulai mengenal bagaimana kehidupan pesantren dan sekolah formal. Kehidupanku kemudian berubah tiga ratus delapan puluh derajat, karena harus menyelami kehidupan yang padat dan penuh pengalaman. Sekarangpun aku baru sadar bagaimana dahulu ayah dan ibu berbeda pendapat hingga berakhir pada sebuah kompromi yang cerdas untuk menyekolahkan aku di pesantren dan sekolah formal sekaligus. Dan tentu aku baru merasakan hasil yang lebih ketika menjalani kedua macam pendidikan ini. Semua tadi adalah hasil usaha keras kedua orang tuaku untuk menjadikan aku anak yang berguna. Terimakasih ayah ibu.   


Sabtu, 21 September 2013

Haii! peserta Festival Gerakan Indonesia Mengajar, berikut puisi yang dibacakan oleh Rozali. seorang anak murid dari SDN 25 Sawang, Aceh Utara. Video ini hanya menunjukan bahwa, anak-anak pelosok Aceh Utara mempunyai mimpi dan cita-cita yang tinggi. Ayo dukung mereka!!
Rozali demikianlah anakku ini dipanggil. Anak aktif dan pemberani ini tak kenal kata "hanjet!", yang artinya "tidak bisa!", seandainya diminta untuk tampil atau mengerjakan tugas. Rozali anak periang yang tak banyak mengeluh. Tak hanya itu saja, anak ke tiga dari lima bersaudara ini mempunyai sikap yang sopan dan mempunyai sikap kepemimpinan yang patut dicontoh oleh teman-temannya. sikap kepemimpinan ini selalu ditunjukan saat perannya yang selalu menjadi pemimpin upacara bendera. Tak hanya itu, Rozali menjadi pemimpin kelas sejak Ia kelas 5. Rozali juga sering ditunjuk oleh Kepala Sekolah Pak Zulfikli untuk melatih teman-temannya menjadi pemimpin upacara. lebih dari itu sebenarnya sikap kepemimpinnya ditunjukan oleh anak ini ketika sering menggantikan temannya menjadi petugas upacara. Semua peran ia bisa, mulai dari membaca teks UUD 45 sampai menjadi petugas pengibar bendera.

Pagi hari Rozali selalu menyapaku dengam godaan khasnya, yaitu ngomong bahasa Aceh. awalnya aku kesulitan memahami apa perkataannya, tapi lama kelamaan aku memahami. "pu haba, pajan ka truk?" (bagaimana kabarnya,kapan sampai sekolah?) sambil mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman, ia ngomong dengan intonasi cepat. Akupun hanya tersenyum, karena tak bisa menjawab apa yang ditanyakan anak ini. Tak lama kemudian ia selalu membantuku membersihkan halaman kantor. Saat kawan-kawan lain sibuk bermain, ia lebih sering membantuku membawa kotak sampah.

Rozali tinggal bersama kedua orang tua dan kakak perempuannya. Rumahnya tak bertetangga, karena terletak di pinggiran hutan jauh dari pusat kampung. Rumah papan kayu ini terletak disebuah bukit, yang belum teraliri dengan listrik dan air bersih. Jarak rumah Rozali dengan sekolah sekitar 500 Meter, dekat memang karena sekolah kami kebetulan terletak jauh dari pusat kampung dan lebih dekat dengan rumah Rozali. Letak rumah Rozali yang sekitar 2 KM dari pusat kampung, tak membuat anak ini tak mengaji di Balai. setiap pukul 5 sore, ia sudah terlihat di kedai depan balai, untuk menunggu Teungkunya datang. 

Selain pintar dan mempunyai sikap kepemimpinan, Rozali juga mempunyai ketertarikan dalam musik dan puisi. Entah berapa kali anak ini selalu menawarkan diri untuk direkam saat mendendangkan lagu seperti artis. Jiwa seninya juga membuat ia jago membuat puisi. ketertarikan pada lagu dan puisi ini membuatnya selalu ingin menjadi artis terkenal. Semoga cita-citamu tergapai hai Rozali, pak guru selalu mendoakanmu ^_^
Krue Seumangat Aneuk Nanggroe!

Muhibbudin (Kelas 6)

Nur (Kelas 3)

Saryulis (Kelas 3)

M. Rizal (Kelas 6)
Di depan camera menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anakku. Yuk tengok bagaimana ekspresi mereka saat di foto.

Sabtu, 14 September 2013

Nur (Kelas 3)

Nurdini (Kelas 4)

Akbar (Kelas V)

Hafidz,Ikrom,Fikri (Kelas V)

Tambah Muhibbudin (kelas 6)
Pose model ala anak SDN 25 Sawang, "Ayo anak-anak, kita berpose seperti model di TV" kataku. Inilah dia sebagian foto yang terbaik.