Sabtu, 22 September 2012

    

Salah, salah, dan salah...berkali-kali manusia menyebutnya dalam dinamika kehidupan ini. Mulai dari golongan atas hingga golongan terendah dalam sistim klasifikasi strata sosial manusia, kata salah sangat popular dan mudah diucapkan. Anak kecil yang sedang menuntut ilmu di sebuah tempat yang sering disebut-sebut sebagai sekolah-pun, kata salah sering dilabelkan untuk anak. Di kantor-kantor pemerintahan, tempat para manusia-manusia penentu kebijakan juga sering terdengar kata salah. Bahkan, di tempat yang asosiatif dengan religiusitas-pun kata salah menjadi sebuah hal yang juga sering terdengar. Kemudian dampaknya ruang dan sudut dunia ini-pun menumpuk kata salah yang populasinya semakin tidak terkendalikan. 
Salah memang selalu dinilai sebagai sebuah bencana agung yang selalu menjadi obyek murka dan kutukan. Salah selalu menjadi kaum-kaum yang termarjinalkan di sudut negara yang seakan-akan tidak lagi mempunyai ruang gerak untuk hidup. Bahkan kemudian salah menjadi sebuah faktor kegagalan terbesar dalam kehidupan seseorang. Lalu kemudian apakah Tuhan menciptakan salah itu sebagai obyek hujatan? Atau salah memang ditakdirkan menjadi sebuah oposisi dari benar yang tidak bisa saling bekerjasama?
Kesalahan terbesar bagi manusia adalah ketika mereka takut salah. Salah memang bukan jalan terbaik yang diinginkan oleh semua manusia. Bahkan Tuhan-pun tidak menginginkan hal demikian terjadi abadi pada setiap hambannya. Akan tetapi, Salah dalam konteks petualangan hidup di dunia bukannlah hal yang buruk dan abadi, akan tetapi salah adalah awal belajar dalam proses kehidupan. Kemudian ada dimanakah sebuah petualangan kehidupan yang sejati itu? Jawabannya adalah pada petualangan rimba yang membutuhkan salah. Tentu saja, salah bukan untuk mengakhiri sebuah proses petualangan, tetapi untuk mengawali sebuah petualangan. Salah yang memberikan nilai-nilai kehidupan yang memberikan sebuah pelajaran bagi si penyalah. Salah yang penuh pelajaran yang memberikan petuah-petuah kebenaran untuk si penyalah.

Salah adalah sahabat kebenaran, tanpa salah kebenaran itu sendiri tidak ada atau setidaknya menjadi hal yang abu-abu. Salah untuk menentukan bahwa benar itu ada dan nyata. Dalam doa-pun sering diucapkan bahwa; ya Tuhan tunjukanlah bahwa yang salah itu salah dan yang benar itu benar, sehingga kami dapat melangkah dan tidak tersesat. Salah bukan hal yang tidak berguna dan tak bermakna, akan tatapi salah justru memberi makna. Dalam Al-Qur’an salah “berkerjasama” dengan benar dan menjadi intisari dari pelajaran historis yang abadi.
Selama pelatihan Training Indonesia Mengajar itulah yang dapat saya ambil hikmahnya. Tidak ada salah dalam salah, yang ada hanyalah salah ketika manusia harus takut salah. Salah menjadi sebuah hal berharga dalam setiap belajar selama pelatihan. Salah menjadi tantangan dan sahabat tersendiri bagi saya pribadi. Salah tidak menghasilkan lontaran kata salah, yang ada hanyalah kamu pasti bisa dan tetap semangat! Dan akhirnya, saya ucapkan terimakasih untuk salah karena kau telah ada dan tercipta, serta telah mengajariku banyak hal selama pelatihan.

0 komentar:

Posting Komentar